19/07/2017
Pura Tanah Lot adalah sebuah objek wisata di Bali, Indonesia. Di sini ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Dang Kahyangan. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut. Tanah Lot terkenal sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam.
Sejarah Pura Tanah Lot Bali Indonesia berdasarkan legenda, dikisahkan pada abad ke -15, Bhagawan Dang Hyang Nirartha atau dikenal dengan nama Dang Hyang Dwijendra melakukan misi penyebaran agama Hindu dari pulau Jawa ke pulau Bali.
Pada saat itu yang berkuasa di pulau Bali adalah Raja Dalem Waturenggong. Beliau sangat menyambut baik dengan kedatangan dari Dang Hyang Nirartha dalam menjalankan misinya, sehingga penyebaran agama Hindu berhasil sampai ke pelosok – pelosok desa yang ada di pulau Bali.
Dalam sejarah Tanah Lot, dikisahkan Dang Hyang Nirartha, melihat sinar suci dari arah laut selatan Bali, maka Dang Hyang Nirartha mencari lokasi dari sinar tersebut dan tibalah beliau di sebuah pantai di desa yang bernama desa Beraban Tabanan.
Pada saat itu desa Beraban dipimpin oleh Bendesa Beraban Sakti, yang sangat menentang ajaran dari Dang Hyang Nirartha dalam menyebarkan agama Hindu. Bendesa Beraban Sakti, menganut aliran monotheisme.
Dang Hyang Nirartha melakukan meditasi di atas batu karang yang menyerupai bentuk burung beo yang pada awalnya berada di daratan.
Dengan berbagai cara Bendesa Beraban ingin mengusir keberadaan Dang Hyang Nirartha dari tempat meditasinya.
Menurut sejarah Tanah Lot berdasarkan legenda Dang Hyang Nirartha memindahkan batu karang (tempat bermeditasinya) ke tengah pantai dengan kekuatan spiritual. Batu karang tersebut diberi nama Tanah Lot yang artinya batukarang yang berada di tengah lautan.
Semenjak peristiwa itu Bendesa Beraban Sakti mengakui kesaktian yang dimiliki Dang Hyang Nirartha dengan menjadi pengikutnya untuk memeluk agama Hindu bersama dengan seluruh penduduk setempat.
Dikisahkan di sejarah Tanah Lot, sebelum meninggalkan desa Beraban, Dang Hyang Nirartha memberikan sebuah keris kepada bendesa Beraban. Keris tersebut memiliki kekuatan untuk menghilangkan segala penyakit yang menyerang tanaman.
Keris tersebut disimpan di Puri Kediri dan dibuatkan upacara keagamaan di Pura Tanah Lot setiap enam bulan sekali. Semenjak hal ini rutin dilakukan oleh penduduk desa Beraban, kesejahteraan penduduk sangat meningkat pesat dengan hasil panen pertanian yang melimpah dan mereka hidup dengan saling menghormati.
Tanah Lot berarti "Tanah [sic: in the] Sea" dalam bahasa Bali. Terletak di Tabanan, sekitar 20 kilometer (12 mi) dari Denpasar, candi ini berada di atas batu lepas pantai besar yang telah dibentuk terus menerus selama bertahun-tahun oleh arus laut.
Tanah Lot diklaim sebagai karya abad ke-16 Dang Hyang Nirartha. Selama perjalanannya menyusuri pantai selatan ia melihat pemandangan batu yang indah itu dan beristirahat di sana. Beberapa nelayan melihatnya, dan membelikannya hadiah. Nirartha kemudian menghabiskan malam di pulau kecil itu. Kemudian dia berbicara dengan para nelayan dan menyuruh mereka membangun sebuah kuil di atas batu karang, karena dia merasa ini adalah tempat suci untuk menyembah dewa laut Bali. Keutamaan utama candi ini adalah Dewa Baruna atau Bhatara Segara, yang merupakan dewa laut atau laut dan belakangan ini, Nirartha juga disembah disini.
Pura Tanah Lot dibangun dan telah menjadi bagian dari mitologi Bali selama berabad-abad. Candi ini merupakan salah satu dari tujuh pura laut di sekitar pantai Bali. Masing-masing kuil laut didirikan di depan penglihatan berikutnya untuk membentuk rantai di sepanjang pantai barat daya. Selain mitologi Bali, candi tersebut secara signifikan dipengaruhi oleh Hinduisme.
Di dasar pulau berbatu, ular laut berbisa diyakini bisa menjaga kuil dari roh jahat dan penyusup. Candi ini konon dilindungi oleh seekor ular raksasa, yang diciptakan dari selendang Nirartha (sejenis selempang) saat ia mendirikan pulau tersebut.
Pada tahun 1980, wajah batu candi mulai runtuh dan daerah sekitar dan di dalam kuil mulai menjadi berbahaya. Pemerintah Jepang kemudian memberikan pinjaman kepada pemerintah Indonesia sebesar Rp 800 miliar (sekitar US $ 130 juta ) untuk melestarikan kuil bersejarah dan lokasi penting lainnya di sekitar Bali. Akibatnya, lebih dari sepertiga "batu" Tanah Lot sebenarnya adalah batu buatan yang disamarkan dengan cerdik yang diciptakan selama program renovasi dan stabilisasi yang didanai Jepang.
Kawasan yang menuju ke Tanah Lot sangat dikomersialkan dan masyarakat diharuskan membayar untuk memasuki daerah tersebut. Untuk mencapai bait suci, pengunjung harus berjalan melewati satu set toko suvenir format pasar Bali yang menutupi masing-masing sisi jalan setapak ke laut. Di daratan clifftops, restoran juga sudah disediakan bagi wisatawan.