11/05/2026
Aroma aspal tersengat matahari ketika Raka memarkir motornya di basecamp Wuzz. Debu jalanan menebal di helm birunya yang mulai kusam.
Admin menghampirinya.
“Ka, Ayah manggil.”
Raka heran. Tumben bos memanggilnya.
Raka masuk ke ruangan sederhana di belakang. Tidak mewah. Hanya meja kayu, termos kopi, kipas tua, dan tumpukan map laporan driver.
Ayah tersenyum begitu melihatnya.
“Duduk dulu, Ka.”
Raka duduk pelan. “Ada apa, Pak?”
Ayah membuka laci, lalu mengeluarkan amplop putih.
“Mulai besok motormu masuk bengkel. Servis mesin. Gratis.”
Raka mengernyit bingung. “Gratis?”
Ayah mengangguk. “Kamu Driver Inspiratif bulan ini.”
Raka tercekat. “Saya?”
“Kami dengar cerita tentang penumpang perempuan itu.”
Raka langsung tersenyum malu. “Itu kan cuma kebetulan.”
“Tidak.” Ayah menggeleng pelan. “Banyak driver bisa antar penumpang sampai tujuan. Tapi tidak semua orang kepikiran mau masuk ke masalah orang lain.”
Raka meraba amplop itu. Ia tahu isi dompet perusahaan mereka sebenarnya tidak besar. Setoran driver bahkan jauh lebih kecil dibanding aplikasi lain.
Raka akhirnya memberanikan diri bertanya.
“Pak... boleh tanya?”
“Apa?”
“Setoran kami kecil. Kadang saya malah mikir Wuzz ini terlalu baik sama driver. Kenapa Bos masih mau keluar biaya sebanyak ini?”
Ayah tersenyum kecil. Matanya lelah, tapi hangat.
“Ka... jangan pernah meremehkan yang kecil.”
Ia menunjuk ke luar jendela, ke arah belasan motor driver yang terparkir.
“Satu driver setor sedikit. Dua driver sedikit. Tapi kalau semuanya dikumpulkan, hasilnya bisa jadi besar sekali.”
Raka mengangguk. Mengira ini adalah bagi-bagi keuntungan.
“Masalah negeri ini kadang karena semua orang ingin mengambil sebanyak-banyaknya. Yang kuat menekan yang lemah. Yang punya modal ingin makin besar, sementara orang kecil makin sesak napas.”
Ia menoleh ke Raka. “Saya nggak mau Wuzz jadi seperti itu.” Suaranya seperti menancap. “Wuzz harus jadi tempat kerja yang tetap bikin orang merasa manusia.”
Ayah bangun dari duduk, sambil menghirup nafas lega. “Kalau driver pulang dengan hati tenang, penumpang juga akan merasa aman. Rezeki itu muter, Ka.”
Raka kini menemukan alasan, kenapa semua memanggilnya, Ayah.