09/03/2023
Salah Melamar (1)
“Dijah, kamu segera siap-siap ya. Nanti malam ada yang melamarmu,” ucap emak sambil memamerkan senyum di wajah keriputnya. Binar matanya indah, menyiratkan betapa bahagianya saat ini.
“Me-la-mar, Mak?” tanyaku tak percaya.
“Iya. Sudah hentikan bacaanmu. Kamu segera mandi, ini sudah jam 5 sore juga. Anak perawan kok males mandi,” ucap Emak dengan kecepatan kilat sambil menarik paksa buku yang kupegang. Sebuah novel roman yang baru saja kubeli beberapa saat lalu.
Aku Dijah, anak pertama dari seorang janda tua sederhana. Bapakku sudah meninggal beberapa tahun lalu, dan aku hanya tinggal berdua bersama Emakku yang super bawel. Meskipun begitu, aku sangat menyayanginya. Sebenarnya aku masih punya saudara, Namanya Dinda, dia adikku satu-satunya, yang mau tak mau menjadi teman berantemku. Sayang, saat ini ia sedang kuliah di kota, mengejar mimpinya. Sedangkan aku? Aku lebih memilih tinggal bersama ibu, karena tak tega meninggalkan ia. Terlebih lagi aku tak ingin membebani emak dengan biaya kuliah yang mencapai puuhan juta. Hingga tinggallah Dijah, yang hanya sebatas tamatan sekolah menengah atas.
“Dijah! Kenapa masih di kamar? Cepat segera mandi,” teriak emak dengan tinggi nada yang semakin keatas.
Kalau ucapannya sudah bervolume diatas standar, mau tidak mau aku harus nurut. Dari pada daun telinga ini menjadi korban atas keganassannya, atau bisa jadi sapu dan kemoceng akan melayang ke setiap bagian tubuhku.
Dijah, nama yang sangat kuno bukan? Aku dilahirkan pada tahun 90 an, tapi namaku seperti pada era kemerdekaan. Nama yang selalu menjadi sasaran empuk buat teman-temanku untuk membullyku. Meskipun sebenarnya nama pemberian dari almarhum bapak ini, adalah nama yang indah. Lengkapnya Khadijah. Nama yang cantik bukan? Bapak pernah berharap, aku memiliki kelembutan hati seperti istri seorang nabi. Tapi, sayangnya, di umurku yang terbilang sudah cukup dari kata matang belum juga ada lelaki yang hendak mempersuntingku.
Bukan tanpa alasan. Aku adalah wanita biasa, hidupku juga sangat biasa. Aku tak cantik, juga tak cerdas, aku juga tak memiliki keahlian apapun, terlebih aku bukanlah perempuan berada. Entahlah, mungkin saat pembagian rejeki, aku hanya dapat bagian sedikit saja. Lain halnya dengan adikku Dinda. Meskipun kami dilahirkan dari Rahim yang sama, nyatanya rejekinya berbeda. Dia terlahir sebagai wanita cantik, hidungnya mancung, tubuhnya semampai dengan kulit tubuh yang putih dan bersih. Bibirnya kecil, namun selalu berwarna kemerahan, berikut dengan alis warna hitam meskipun tanpa tersentuh oleh eye brow. Jika kami sedang berdiri bersama, tentu akan terlihat perbedaan mencolok diantara kami, terlebih lagi tinggiku sudah tersaing oleh tubuh sempurnanya.
“Dijah, masih belum keluar kamar juga?” tanya emak dengan nada yang semakin meninggi, dengan cepat aku membuka pintu kamar dan menampakkan diri.
“Emak, tadi Dijah ambil handuk dulu,” ucapku sambil memerkan benda bertekstur halus yang melingkari leherku.
Emakk tersenyum.
“Sebenarnya siapa yang mau melamar dijah, Mak?” tanyaku ragu.
Sebenarnya siapapun yang datang, aku tak mungkin menolak. Karena bagaimanapun, aku yakin kalau pilihan emak adalah jodoh yang terbaik, itulah yang aku percayai. Lebih memilih pasrah dengan jodoh yang akan ditakdirkan tuhan kepadaku.
“Nak Ammar.”
“Ammar?” tanyaku yang diikuti dengan menelan saliva dengan kasar.
“Jangan bilang kamu menolak. Kamu sudah janji kan, menyerahkan urusan jodoh kepada Emak.’
“Gih, Mak,” ucapku yang segera berlalu ke kamar mandi dengan menahan senyum di hatiku.
“Ammar?” ucapku tak percaya sambil menatap wajahku di cermin kamar mandi.
Ya, di ruangan yang tak besar ini aku memang meletakkan pecahan kaca yang memiliki sisi tak beraturan ke dinding. Aku mempunyai kebiasaan menatap wajahku sebelum dan sesudah mandi. Alasannya sih supaya tahu bagaimana perubahan wajahku dari jelek menjadi cantik, tapi nyatanya tak ada yang berubah. Entah aku mandi ataupun tidak, rasanya tak ada bedanya, karena itulah aku jadi wanita yang malas mandi.
Ammar, dia adalah salah satu pemuda idaman di kampung ini. Lebih tepatnya idamanku. Dia anak dari seorang imam masjid tempat ini. Lain dari kakak-kakaknya yang selalu terlihat rapi dan agamis. Ammar memiliki penampilan yang beda. Jika kedua kakaknya lebih sering memakai sarung dan baju koko, Ammar lebih s**a dengan celana levis dan atasan kaos. Jika kedua kakaknya s**a ikut berjamaah di saf depan bersama bapak mereka, lain halnya dengan Ammar yang selalu datang terlambat dan berada di saf sholat paling belakang. Ia terlihat lebih urakan dari saudaranya yang lain, tapi tetap saja wajah tampannya itu menghipnotis kaum hawa.
‘Amar melamarku?’ batinku yang masih tak percaya. Beberapa kali kuusap kasar wajahku sendiri, memastikan jika semua bukanlah mimpi.
***
Detikan jam terus berjalan, bersamaan dengan hatiku yang dag dig dug tak karuan. Menghadirkan sandi rumput yang entah bagaimana cara membacanya.
Apalagi ketika kulihat rombongan dengan 2 mobil terparkir. Jantungku seakan hendak copot dari tempatnya. Emak memintaku untuk berdiam di kamar, menatap rombongan itu masuk dari balik jendela. Sedangkan wanita keramat yang telah melahirkanku, menjamu tamunya dengan wajah sumringah.
“Khadijah,” teriak bulekku bersamaan dengan ketukan pintu.
Kalau sudah seperti ini, mau tidak mau aku harus keluar menampakkan batang hidungku yang terkesan pas-pasan. Kulihat kembali wjaahku di cermin, berikut dengan pakaian yang menyelimutiku saat ini. Aku berdiri di depan kaca besar yang menempel di pintu almari, mengenakan kebaya warna biru dengan make up seadanya. Tidak lupa kututupi mahkotaku dengan warna senada.
“Eh, lupa,” ucapku bermonolog sambil mengambil parfum murahan yang berada di atas meja, kusemprotkan benda tersebut, hingga wangi itu menguar ke seluruh ruangan.
“Tarik nafas, hembuskan. Tatik nafas, hembuskan,” ucapku sendiir sambil emlakukan perintah dari bibir. Seperti inilah caraku menenagkan diri dari rasa tegang.
Perlahan kupegang gagang pintu, dan memutarnya. Kugeser benda kayu itu, hingga terdengar suara berderit ketika pintu kayu berbenturan dengan lantai. Kini, semua mata menatap kearahku, karena pintu kamar langsung berhadapan ke ruang tamu.
Kedua orang tua Ammar duduk di sofa panjang, dengan ketiga anaknya yang saling berdampingan dengan pasangan masing-masing. Tak terlihat Amar layaknya sebuah pesta lamaran di tiktok ataupun facebook. Karena di desa ini, masih sangat mengikuti budaya local. Dimana sang lelaki yang melamar, tak akan turut serta untuk datang. Apalagi sampai bertukar cincin layaknya selebriti. Bahasa jawanya, orang tua akan nembung kepada pihak perempuan, meminta ijin jika anak perempuannya akan diunduh mantu. Setelahnya, sang wanita ditanyai oleh pihak lelaki, apakah bersedia dinikahi oleh anaknya yang bernama fulan. Ketika aku menjawab iya, semuaa prosesi usai. Ya, sangat sederhana.
Setelah melakukan prosesi lamaran usai. Baik keluarga Ammar dan keluarga besarku saling musyawarah tentang hari pernikahan. Sekilas akupun mendengar, jika hari pernikahanku tinggal hitungan hari. Hingga di hari H, aku mendapati kenyataan jika yang hendak dilamar oleh Ammar adalah Dinda, adikku.
**
Bab. 2
Salah Melamar (2)
“Wah, Dijah mangklingi ya kalau didandani seperti ini,” ucap salah satu saudara yang mengintipku dari balik pintu. Tanpa menoleh ke arahnya pun aku sudah tahu kalau itu bulek.
Aku tersenyum, menatap wajahku dalam pantulan cermin rias. Seorang wanita berjilbab dengan riasan full itu benar-benar berbeda dengan wajahku. Pipinya terlihat lebih tirus, hidungnya terlihat lebih mancung, serta wajahnya yang kini berseri. Sejujurnya wajah berseri itu bukan nampak dari polesan yang tersapu ke wajahnya, melainkan betapa bahagianya aku yang akan dipersunting dengan lelaki yang memang aku idamkan. Aku benar-benar tak menyangka jika Ammar adalah jodohku. Mungkinkah ini suatu keajaiban dari sebuah doa? Nama yang kupanjatkan dalam setiap sujudku.
Sebuah senyum tercipta, membayangkan kehidupanku ke depannya yang akan sangat indah. Merasakan sebuah pacaran setelah nikah, layaknya sebuah pernikahan di novel roman yang pernah kubaca. Saling malu-malu dan akhirnya saling mau-mau.
“Assalamualaikum,” ucapan salam itu terdengar, berikut dengan tubuh semampai yang kini mengenakan tas dan jaket berbahan jeans. Jilbabnya warna merah yang dikenakannya sedikit berantakan, hingga ujung benda persegi empat itu sudah tak terbentuk dan menutupi sebagian dari wajah cantik adikku.
“waalaikumsalam, Dinda,” ucapku yang kini langsung bangkit dan merengkuh tubuhnya. Kupeluk ia berikut dengan ransel yang masih menempel di punggungnya.
“Kenapa baru datang, Dek? sebentar lagi mbak sudah mau hijab,” ucapku yang kini melepas pelukan.
Dinda menunduk, terlihat murung di balik kerudung yang dikenakannya. Wajah dengan kulit putih bersih itu kini terlihat redup, berikut dengan kantung mata yang membengkak, layaknya habis nangis berhari-hari.
“Dek, kamu kenapa?” tanyaku kepada gadis kecil yang baru saja pulang dari kuliahnya. Sebenarnya aku memberitahu Dinda tentang hari pernikahanku seusai keluarga Ammar datang. Aku juga meminta ia yang akan menjadi pager ayuku ketika resepsi dilaksanakan. Sayang, tugas kuliah Dinda menumpuk. Bahkan ia baru bisa datang tepat di hari pernikahan sepeti ini, di waktu yang sangat mepet dengan ijab.
“Dek, jawab pertanyaan Mbak.”
Alih-alih Dinda menjawab pertanyaanku, justru yang ada ia menangis sejadinya. Awalnya lirih, lalu mulai terdengar isak tangis itu, hingga semua berakhir dengan tangisnya yang tersedu-sedu. Benar-benar membuatku keheranan dan memunculkan pertanyaan besar.
“Dek, kamu kenapa nangis? Jawab pertanyaan mbak,” tanyaku yang terus mengulang kalimat yang sama.
“Mbak Dijah nikah. Dinda gak punya teman berantem lagi. Selain itu pasti mbak tinggal dirumah Mas Ammar, tentu waktu kita berkumpul akan sangat kurang.”
“Ya elah, Dek. mbak kira ada apa. Untung Mbakmu gak punya riwayat penyakit jantung lemah. Bisa sekarat nanti, gak jadi nikah,” ucapku sambil melengkungkan bibir.
“Mbak khawatir ya dengan Dinda? Emang mbak kira dinda kenapa?”
“Mbak pikir kamu habis dirampok gitu. Kan perjalananmu kesini cukup panjang.”
“Biasanya juga diajak berantem. Tumbenan dikhawatirin. Emang sayang sama Dinda?”
“Lah, harus ditanyakan? Ya pasti sayanglah, adekku yang cantik,” ucapku sambil mencubit hidung mancung miliknya. Hidung yang berbanding terbalik dengan milikku, pesek.
“Kalau sayang sama Dinda, boleh tidak kita bertukar nasib? Dinda yang nikah dengan Mas Ammar?”
Aku terdiam, bahkan untuk menelan salivapun sangat kesusahan. Mendadak kerongkongan ini mengering begitu saja.
“Mbak Dijah serius sekali. lagian, siapa juga yang mau nikah muda? Sama mas ammar lagi? Kan Dinda sudah pernah cerita kalau dinda itu sudah punya pacar,” ucapnya yang kini meringis menampakkan jejeran gigi seri yang putih dan rapi.
Aku tersenyum, prank dari dinda, benar-benar membuatku terhanyut. Bahkan rasa ngiluku itu masih terasa meskipun aku tahu semua sekedar candaan saja.
“Mbak Dijah, Dinda ke kamar dulu ya. mau ganti baju. Masa mbak nya nikah, pakai pakaian preman kayak gini,” ucapnya sambil menatap tubuhnya yang terbalut oleh celana jeans dan jaket berbahan sama.
Aku tersenyum, “jangan lama-lama, dandannya juga cantik-cantik. Nanti pengantin wanitanya kalah,” godaku.
Perlahan tubuh Dinda hilang dari pandangan, bersamaan dengan kandung kemihku yang kembali terisi penuh. Entahlah, ini pipis keberapa kali semenjak bangun tadi. Rasa grogi, benar-benar membuat organ itu terus terisi.
“Mbak, Dijah ijin lagi ya?” ucapku sambil meringis menatap tukang rias. Ia hanya menggelengkan kepala dan membiarkanku berlalu begitu saja.
“Sudahlah, Mas Ammar. Dinda sudah berbesar hati dengan semuanya.” Nama mas ammar benar-benar terdengar begitu jelas ketika aku melewati kamar Dinda. Kudekatkan tubuh ini mendekati pintu, dimana kayu berbentuk persegi panjang usang itu sedikit membuka, tak tertutup dengan sempurna.
“Kita bisa jelaskan semua kepada orang tua kita, Din. Yang ingin aku nikahi itu kamu. Kamu yang aku lamar, bukan Mbak mu,” terdengar suara lelaki dengan penegasan.
Rasa penasaran itu semakin membuncah dalam hatiku. Terlebih dua suara itu begitu kukenal, berikut dengan nama-nama yang terucap.
“Jelaskan? Maksudmu kamu mau menghina mbakku?”
“Aku tidak berniat sepeti itu. Aku hanya ingin ...”
“Sudahlah Mas Ammar. Aku mohon.”
“Din, kita bisa bicarakan ini baik-baik dengan keluarga kita.”
“Tidak. Itu semua akan menyakiti hati Mbak Dijah. Sama saja kamu mencoreng wajahnya di depan khalayak umum. Dinda sudah menerima pernikahan kalian, dan aku harap Mas Ammar pun begitu. Bisa menerima kehadiran Mbak dijah di kehidupan Mas.”
Aku menutup mulutku yang menganaga ketika kulihat 2 orang lawan jenis itu sedang beradu mulut tentang pernikahan ini. Bahkan, aku baru tersadar jika selama ini yang diinginkan ammar adalah Dinda. Bukannya aku.
“Pacar dinda itu Ammar?” tanyaku lirih dengan perasaan yang bercampur aduk. Beberapa Kali dinda memang menceritakan tentang lelaki yang dicintainya, meskipun ia terus merahasiakan nama lelaki itu.
Hati ini bagai terhunus belati mendapati kenyataan yang menyakitkan. Perih. Pedih. Semua bercampur jadi satu. Inikah alasan dari wajah muram Dinda? Bahkan sekilas menatap wajahnya akan tampak residu tangisan yang tergores di wajah seputih susu itu.
“Dijah, kamu disini?” tanya emak sambil gelengan kepala. “sudah tahu mau nikah, malah keluyuran. Ayo ditungguin pak penghulu dari tadi.” Aku digandeng emak begitu saja, membawanya keluar menuju tempat akad.
Disana sudah ramai oleh beberpaa kelurga inti, juga dari keluaga Ammar. Kedua orang tuanya juga saudara-saudaranya. Wajah mereka terlihat kaku, seakan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
“Ini juga pengantin prianya belum tiba. Pipis dari tadi gak balik-balik,” ucap emak sambil menatap sekeliling.
“Mak, Dijah mau bilang sesuatu,” ucapku yang kini memegang punggung tangan emak yang dipenuhi beberapa keriput. Aku ingin menjelaskan kepada beliau tentang salah lamaran yang dilakukan oleh keluarga Ammar. Aku tahu mungkin ini berat, terlebih lagi aku juga menautkan rasa dengan pria yang sama dengan adikku.
“Nanti, ngomongnya habis nikah. Diem saja disitu.” Emak langsung melenggang pergi begitu saja, tanpa mendengarkan penjelasanku sedikitpun.
Hingga dimenit kemudian, muncullah ammar yang tengah berdiri di sebelah emak, menatap ke arahku. Mungkinkah ia akan membatalkan dan menjelaskan semuanya?
Bersambung ...
----
Bab. 3
Salah Melamar (3)
“Sah?”
“Sah, sah, sah.” Kalimat itu saling bersaut satu sama lain, menggema di seluruh ruangan tamu seusai kalimat ijab terdengar dari bibir Ammar.
Mata emak berbinar, dengan senyum yang tak hentinya mengembang. Berikut dengan Dinda yang dipaksakan untuk tersenyum. Sebuah kamuflase itu terlihat jelas di mataku. Ya, kini ia duduk di sebelah emak, turut menyaksikan lelaki yang disayangnya mengucapkan kalimat ijab untuk kakak kandungnya.
Prosesi terus berjalan, dimana aku dan Ammar diminta sungkem dengan orang tua yang telah melahirkan kita. Bahu lelaki itu ditepuk oleh bapaknya, berikut dengan suara yang dibisikkan di dekat telinganya. “Bagaimanapun, sekarang kamu adalah seorang suami. Bahagiakan istrimu,” ucapnya lirih yang masih terdengar olehku. Ibu Ammar pun turut mengelus pundakku, juga memberikan sebuah doa pengantar pernikahan kami. “semoga bahagia, Nduk. Semoga jadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah.”
Aku tersenyum kecil, berharap pernikahan yang tak didasari oleh cinta ini akan menjadi seperti apa yang diucapkan ibu mertua.
“Dijah, kamu sekarang sudah jadi seorang istri. Nurut sama perkataan suamimu, jangan kebanyakan bantah seperti sama emak,” ucap emakku kala aku bergantian sungkem di tubuh tuanya.
Senyumnya indah, menggambarkan betapa bahagianya beliau saat ini. Berbanding berbalik dengan wajah Dinda yang kini ditutup oleh kabut kelam. Bahkan make up merona yang tertempel di wajahnya tak mampu menutupi kepedihan hatinya.
“Mbak Dijah, selamat berbahagia. Until jannah ya, Mbak,” ucap adik kecilku yang kini kupeluk. Aku tahu ia menyimpan luka, dan menutupi semua dari kita.
“Makasih ya, Dek.”
Aku kini melepas pelukan, dimana aku mulai menyadari manik mata adikku saling bertaut dengan lelaki di sebelahku.
“Mas Ammar, jaga Mbak Dijah ya,” ucapnya yang kini terdengar parau. Bahkan mata indah dengan bentuk bulat itu nampak berkaca-kaca, dimana sekali kedip, tumpah juga apa yang telah dibendungnya.
“Dek, kamu nangis?” tanyaku.
“Iya, Mbak Dijah. Maaf adikmu ini melow. Dinda hanya takut ditinggalMBak Dijah,” ucapnya yang terdengar meyakinkan.
“Kami akan selalu berkunjung kesini menghampirimu,” ucap Ammar yang turut menjawab.
Mereka seakan memainkan drama dengan begitu apik. Mungkin mereka tak tahu, jika aku telah mengetahui apa yang mereka bicarakan di kamar tadi.
Belum juga apa-apa, bibit cemburu mulai timbul. Layaknya daun kering yang kini diremas begitu saja, remuk, lenyap. Bahkan ketika angin menyapanya, semua akan sirna. Ya, pernikahan ini seakan tak berarti, dimana tak adanya pondasi cinta di dalamnya. Terlebih aku tahu, jika wanita yang ditambatkan oleh hati lelakiku adalah adikku sendiri. Pantaskah aku untuk cemburu?
Dinda tersenyum, berikut dengan Ammar yang juga tersenyum. Membiaskan rasa sakit yang dari tertahan. Jika Dinda telah merelakan kekasihnya untukku, kenapa ia tak mampu memposisikan dirinya sebagai adik ipar Ammar? Ia telah dewasa, dan harusnya ia bisa membawa dirinya sendiri, terlebih lagi, ia seorang pelajar yang berpendidikan.
Proses demi proses kami lewati, mulai dari mencuci kaki Ammar yang telah menginjakkan kakinya ke telur, melempar sepucuk bunga satu sama lain, juga mengadahkan tangan menerima butiran beras yang dituang dari tangan Ammar.
Aku masih mengenakan pakaian pernikahan dengan asesoris berat dikepala, menerima tamu yang dari tadi pagi serasa tak ada henti-hentinya. Ya, ini adalah kali pertama emak memiliki “gawe” dalam bahasa jawanya jadi banyak tetangga yang bakalan datang memberikan selamat, juga memberikan sebagian rejeki kepada kami, baik itu hasil panenan, maupun berupa uang.
Ammar sudah tak kelihatan batang hidungnya. Sejak adan duhur tadi, setelah keluarga besarnya pamit pulang. Ia turun dari panggung bergebyok ukiran dengan janur melengkung di depannya. Ya, ia berdalih capek, dan kurang sakit hingga meninggalkan acara sepenting ini sebelum acara usai.
Detik waktupun terus berjalan, hingga mentari yang tadinya menyengat dengan teriknya, kini perlahan turun, meyisakan sinar jingga yang indah. Akupun turut ke bawah, masuk ke dalam kamar, melepas pernak pernik yang menempel di pakaian dan jilbabku.
Kupandangi wajahku, mengusap make up dengan kapas putih yang sudah kubasahi dengan remover. Mengangkat topeng wajah, yang kini berganti dengan wajah alamiku.
Dalam pantulan cermin di depanku, menampakkan tubuh lelakiku yang sedang duduk di bibir ranjang. Jarinya asyik memainkan ponsel yang ia pegang, berikut dnegan bibirnya yang turut bergerak ke atas dan ke bawah, layaknya membaca jejeran huruf di dalamnya.
“Mas Ammar, Dijah mandi dulu ya,” ucapku.
Usia Ammar tak berbeda jauh denganku. Bahkan bisa dibilang seumuran. Hanya saja saat ini ia menjadi kepala keluargaku, aku harus memanggilnya Mas sebagai bentuk hormat.
Lelaki dengan tubuh tinggi dan rambut hitam lurus itu sedikit menoleh kearahku, “hm ...” lalu kembali fokus dengan benda menyala yang dipegangnya
Tak ada kalimat yang keluar dari bibir tipis itu selain kata deheman yang terdengar hambar.
‘Sabar, Dijah. Sabar,’ batinku sambil kuhela nafas panjang. Setelahnya aku membersihkan diri sekaligus mengusir penat setelah seharian duduk di kursi pelaminan.
**
“Mas Ammar, sudah masuk shalat marib. Yuk jamaah!” ucapku setelah usai membersihkan diri, mengenakan gamis panjang, dengan mekena warna putih yang masih berada di tanganku.
Ammar masih terfokus dengan ponsel yang dipegangnya. Duduknyapun masih tak berubah. Ia menoleh dan sekilas menatapku. “Aku sudah mendirikan shalatku. Kamu shalat sendiri ya,” ucapnya yang terdengar begitu dingin.
Aku meneguk salivaku. Belum apa-apa, aku harus menghadapi sifat Ammar yang begitu cuek, jauh berbeda dari novel roman yang pernah kubaca.
Aku menjalankan rakaatku, setelahnya langsung berjalan mendekat ke arah Ammar, dan duduk di sebelahnya. Menjalankan pernikahan tanpa mengenalnya di awal , benar-benar membuatku kikuk.
Ia tak mengindahkan kehadiranku, masih terfokus dengan ponsel yang dipegangnya. Terbesit rasa curiga, mungkinkah ia sedang membaca pesan dari Dinda? Atau .. mereka sedang melakukan rencana untuk bertemu diam-diam? Ah, isi kepalaku terus dipenuhi dengan pikiran buruk.
“Dijah.”
Ammar meletakkan ponselnya, dan kini menoleh ke arahku. Menghadirkan rasa yang begitu sulit kumengerti. Jantungku berdetak tak karuan, memompa darah dengan cepat hingga menegangkan semua urat syarafku. Tubuhku terdiam, namun hati ini seperti berdetak layaknya sandi rumput yang tak mudah kuartikan.
“Iya, Mas Ammar.”
Kedua manik itu mencengkram pandanganku. Seakan menyelam masuk jauh ke dalam hatiku. Ini kali pertama, aku berdekatan dengan lelaki sedekat ini, saling berpandangan dengan lawan jenis selama ini.
“Dijah, perlu kamu tahu. Pernikahan ini bukanlah yang kuinginkan. Wanita yang hendak kupersunting bukanlah kamu. Namun, Dinda adikmu,” ucapnya dengan tegas, yang langsung menyambar hatiku. Baru saja aku merajut cinta dan harapan untuk pernikahan ini, semua harus kembali tercerai berai.
“Aku menikahimu karena permintaan Dinda.” Lelaki itu tampak menarik nafasnya yang berat. “Jangan pernah meminta hakmu kepadaku, akupun akan melakukan hal yang sama. Kita tidur di ranjang yang terpisah.”
----
Di kbm app sudah tamat.
Silahkan klik link nya.