ORMAS Oi

ORMAS Oi Ormas Oi
adalah organisasi masyarakat Orang Indonesia
tongkrongan anak anak Oi K3R & FAMA
www.iwanfals.co.id

Inalillahi wa innailaihi Raji'un 🙏
03/07/2021

Inalillahi wa innailaihi Raji'un 🙏

HARI INI Saksikan Konser Eksklusif Iwan Fals & Band TOP COFFEE NATION di Taman Budaya Yogyakarta, gerbang dibuka jam 17:...
07/01/2017

HARI INI Saksikan Konser Eksklusif Iwan Fals & Band TOP COFFEE NATION di Taman Budaya Yogyakarta, gerbang dibuka jam 17:00 waktu setempat, HTM Rp. 300.000. Sampai jumpa!

14/07/2015

Assalamualaikum. Acara Silaturrahmi..
dirumah
tgl 19, 20, 21juli2015 jam 15:30 s/d 17:30WIB.
Minal'aidiin walfaiziin..
"Mohon Maaf Lahir Batin"

09/07/2015

Bagaimana Iwan Fals bangkit dari kerusuhan jiwa
dan menjadi saksi?
LEUWINANGGUNG adalah sebuah desa yang mirip
kebanyakan dusun Pulau Jawa. Di sana ada rumah,
sekolah, masjid, klinik, pohon dan bambu, madrasah
ibtidaiyah, serta kantor lurah. Tetapi Leuwinanggung
tak sama dengan desa-desa lain di Pulau Jawa
karena di sana berumahlah seorang dewa ....
namanya Iwan Fals.
Dewa ini tinggal di sebuah rumah besar. Tanahnya
6.000 meter persegi. Bagian terbesar dipakai untuk
sebuah toko, pendopo, sebuah panggung terbuka,
maupun kantor organisasi para penggemar si dewa
bernama Oi. Kediaman pribadi dewa ini dilengkapi
studio musik, garasi mobil (termasuk bus), rumah
tinggal, serta kebun dengan rumput tercukur rapi.
Suatu sore September lalu, Iwan Fals menceritakan
perkenalannya dengan Leuwinanggung pada saya.
“Tahun 1982 saya cari tanah di sini, maksudnya
untuk investasi saja,” katanya. Dia membeli tanah
dari rezeki penjualan kaset Sarjana Muda yang
diluncurkan 1981 dan terjual 300 ribu buah. Kisah
berikutnya, dia sekali-sekali datang dari Jakarta
bersama istrinya, mantan model Yos Rosana,
menengok tanah mereka serta membawa p**ang
buah-buahan dari kebun.
Leuwinanggung menarik karena warganya rukun.
Kalau ada acara perkawinan, jaipongan, atau
kematian, semuanya kumpul. “Bila ada kematian,
pengunjung yang datang justru dibayar. Diberi uang.
Mereka bahkan sampai ngutang. Dalam hati saya
pikir, ‘Gagah amat.’ Saya merasa kecil sekali. Kayak
jawara gitu. Ada kegagahan di sini. Kalau mereka
datang kenduri, duduk, pandangan ke depan, nggak
ditegur ya diam saja. Kalau ada makan ya nggak
rakus. Saya kan dulu nggak tahu. Ada makanan ya
saya makan,” kata Iwan.
Kalau sedang tak sibuk, Iwan ikut salawatan tiap
malam Jumat. “Bahasanya campur Arab, Sunda,
Jawa. Ada 20 nomor salawatan lama yang saya
kumpulkan.” Salawatan untuk sebuah desa macam
Leuwinanggung, yang tanahnya, kapling demi
kapling dibeli orang Jakarta, dan anak-anak
mudanya mulai kekurangan pekerjaan, bisa jadi
kekuatan untuk desa ini. “Kekuatan secara batin,
secara spiritual,” kata Iwan.
Leuwinanggung sendiri terletak di daerah Bogor.
Penduduk di sana sehari-hari bicara bahasa Sunda
kasar. Orang butuh sekitar satu jam naik taksi dari
Jakarta ke Leuwinanggung. Daerahnya terpencil.
Selewat magrib, jalanan Leuwinanggung sepi dan
jarang ada kendaraan. Ketika 16 Agustus lalu saya
kemalaman di Leuwinanggung, lewat tengah malam
saya jalan kaki empat kilometer untuk mendapatkan
tukang ojek.
Ketika itu sekitar 600 penggemar Fals dan
penduduk Leuwinanggung merayakan Agustusan
bersama. Di sanalah saya menemukan banyak iwan
fals. Mereka bergaya ala Fals dengan rambut
gondrong, jins belel, memberi salam dan berteriak
“Oi.” Suaranya dibuat dalam, agak serak. Di
panggung, lagu-lagu Fals dibawakan bergantian,
dari yang mirip aransemen aslinya, sehingga
mendapat tepuk tangan, sampai yang ditertawakan
penonton—dapat tepuk tangan juga.
Yang ditertawakan termasuk seorang pemuda 30-
an tahun. Topinya merah, rambutnya gondrong
sepundak, kulitnya gelap, giginya putih bersih, dan
namanya Fajar Wijaya. Fajar seorang pengamen
kelahiran Yogyakarta tapi lebih sering mengamen di
Cilegon. “Saya terharu, menjerit, merasa ada
panggilan hati. Dapat bimbingan dari lagunya itu,”
katanya, mengacu lagu Di Mata Air Tak Ada Air
Mata.
“Saya merasa kok ada hikmah tersendiri buat hidup
saya. Saya merantau. (Lagu) ini nasihat dalam
perjalanan hidup saya. Saya merenungkan jati diri
saya,” kata Fajar, tersenyum sembari menarik-
narik baju luriknya yang lusuh.
Iwan Fals memang bukan dewa dalam pengertian
mitologi Yunani. Mungkin kedewaan Fals lebih dekat
dengan fenomena musik 1960-an ketika dinding-
dinding kota London dicorat-coret dengan kalimat,
“Clapton is god (Clapton seorang dewa).” Mereka
yang anonim itu memuja Eric Clapton, gitaris blues
Yardbirds yang muncul di Inggris pada 1963.
Majalah Rolling Stone menyebut Clapton menonjol
karena konsisten menjaga standar mutu karyanya.
Orang yang malam Agustusan itu tak kalah
sibuknya dengan Fajar adalah Slamet Setyabudi,
koordinator keamanan Oi, yang sehari-hari bekerja
sebagai tentara dengan pangkat sersan dua dari
Pas**an Pengawal Presiden. Slamet badannya
tegap, orangnya ramah. Dia anggota grup C yang
bertugas mengawal tamu-tamu negara. Dia pernah
mengawal Perdana Menteri Malaysia Mahathir
Mohamad dan Presiden Timor Lorosa’e Xanana
Gusmao. “Habis dinas saya ke sini,” katanya.
Slamet sesekali membawa rekan-rekannya ke
Leuwinanggung untuk bantu keamanan. “Tentara
yang penggemar Mas Iwan ini sebenarnya banyak,”
katanya. Saya sempat berpikir nakal. Negara
Indonesia membayari ratusan tentara untuk
mengawal presiden dan wakil presiden. Mereka
menerima gaji, sering pergi ke luar negeri,
menerima pelatihan, mendapat seragam keren.
Ternyata tentara yang sama mengawal Iwan Fals
dengan gratis!
Malam itu lebih dari selusin pengurus Oi bercerita
tentang Fals pada saya. Mereka cerita para
penggemar yang terperangah ketika pertama kali
menemui Fals. Banyak yang “gila” dengan
memeluk, mencium tangan, dan menangisi Fals.
Ada yang datang dari Flores, Riau, Jambi, dan
sebagainya.
Malam itu saya berharap melihat ritual tersebut.
Ratusan penggemar berharap sang dewa muncul.
Namun Iwan tetap tinggal di rumah. Dia “meriang,
kecapekan” dan dicurigai kena tipus. Dewa ini
ternyata manusia biasa yang bisa sakit.
MALAM itu juga ada Muhamad Ma’mun. Seorang
lelaki yang menarik. Penampilannya kalem,
rambutnya panjang, dan terkadang dipanggil
“Romo.” Ma’mun dulu pernah kerja di perusahaan
properti tapi sekarang wiraswasta, memborong
pekerjaan bangunan rumah. Ma’mun termasuk
kenalan dekat Iwan Fals. Dia mengenal keluarga
Fals sejak 1985 ketika mulai mondok di sebuah
rumah di Jalan Barkah, Manggarai, Jakarta Pusat.
Rumah itu milik Lies Suudiyah, seorang pekerja
sosial dan ibunda Iwan.
Fals waktu itu sudah berkeluarga dan tinggal di
Condet. “Panggilan rumahnya Tanto,” kata Ma’mun.
Nama lengkapnya Virgiawan Listanto. “Galang
masih kecil, belum sekolah, mungkin empat atau
lima tahun. Cikal baru bisa jalan,” kata Ma’mun,
mengacu pada anak Iwan: Galang Rambu Anarki
dan Anisa Cikal Rambu Basae.
Entah kenapa keduanya cocok. Ma’mun usianya
tiga tahun lebih tua dari Iwan. Ma’mun kelahiran
Solo 1958 sedang Iwan Jakarta 1961. Mungkin
mereka punya karakter dasar yang sama. Keduanya
orang yang tak ragu mempertanyakan apapun. Saya
terkesan dengan kerendahan hati mereka. Ketika
mondok Ma’mun bekerja sebagai pegawai PT
Pembangunan Jaya sementara Iwan sudah mulai
dikenal sebagai penyanyi. Persahabatan mereka
berlanjut hingga sekarang. Ma’mun termasuk orang
yang diminta Iwan jadi pengurus Yayasan Orang
Indonesia—yayasan sosial yang dibentuk dan
diketuai Iwan sendiri.
Pengalaman berkesan Ma’mun terjadi ketika
mereka lagi membaca harian sore Sinar Harapan
yang memuat foto anggota-anggota parlemen
ketiduran saat sidang. “Wah, ini perlu disentil To,”
kata Ma’mun.
Iwan menyanding gitar dan Ma’mun membawa
pena. Mereka bekerja mencari lirik dan musik.
Semalaman mereka bekerja. Hasilnya, lagu Surat
Untuk Wakil Rakyat yang dimasukkan dalam album
Wakil Rakyat (1987). Ma’mun bangga dengan karya
bersama ini apalagi ketika mahasiswa menjadikan
lagu itu “lagu wajib” demonstrasi. Hingga kini
Ma’mun rutin mendapatkan kiriman uang royalti dari
Musica—produser dan distributor sebagian besar
album Fals.
Ma’mun menilai temannya itu sebagai salah satu
penyanyi kritik sosial terkemuka di Indonesia. Iwan
menggunakan bahasa Indonesia, untuk bercerita
tentang anak maling yang jadi maling, sunatan
massal, pelacur, korupsi, nasib guru, dan
sebagainya. Majalah Time Mei lalu menyebutnya
“pahlawan Asia”—sejajar dengan Jackie Chan,
Xanana Gusmao, dan Aung San Suu Kyi.
Kalau artis lain menjaga penampilan mereka lewat
make up menyala, potongan rambut aneh, kostum
unik, atau operasi plastik untuk memperindah diri,
Iwan Fals tampil biasa. Beberapa kali saya
menyaksikan Iwan memakai kaos Shanghai, kaos
katun tipis dan lembut, yang harganya Rp 10 ribu
selembar, saat konser. Orang toh tetap histeris
melihatnya. Iwan mungkin punya kharisma.
Amir Husin Daulay, seorang aktivis mahasiswa
1980-an, menyebut Fals “nabi buat para
pengikutnya.” Pada 1983 Daulay mengundang Fals
mengamen ke kampus Akademi Ilmu Statistik. Iwan
datang bersama Yos, membawa gitar, menyanyikan
empat lagu, dan mendapat honor Rp 400 ribu.
Pengalaman mengamen, yang dilakukannya
bertahun-tahun, melatih Iwan menghadapi massa,
dari pentas ke pentas, sehingga tahu bagaimana
mengatur dirinya sendiri, bagaimana mengatur
suara, mana yang dis**ai, mana yang tak dis**ai.
Persahabatan Ma’mun dan Iwan meningkat seiring
karier mereka berdua. Antara Sarjana Muda hingga
album Antara Aku, Kau, dan Bekas Pacarmu pada
1989, Iwan menghasilkan 13 album bersama
Musica. Artinya, hampir satu album tiap enam
bulan. Ini luar biasa.
Pada 1989 Iwan menerbitkan album Mata Dewa
bersama Arena Indonesia Production (Airo). Mereka
berniat mengadakan tur 100 kota. Konser perdana
26 Februari 1989 di Jakarta berjalan baik tapi
buntutnya sebelas kendaraan bermotor dirusak.
Mengapa kerusuhan terjadi? Sampai hari ini belum
ada penjelasan rinci. Apa polisi kurang profesional?
Atau Arena Indonesia Production kurang siap? Atau
Fals mengeluarkan kalimat-kalimat yang
memprovokasi massa?
Tapi tur jalan terus ke Pulau Sumatra. Sore hari 9
Maret 1989, Ma’mun dan Iwan Fals berada di
sebuah hotel di Palembang. Keesokannya, Iwan
bakal tampil di konser Mata Dewa. Sehabis makan
malam, Ma’mun dan Iwan masuk kamar. Di depan
cermin, mereka bicara soal persiapan konser.
“Gayane ngene yo? (Gayanya gini ya?)” tanya Iwan,
sambil memegang gitar akustik.
“Ojo ndingkluk. Rodo ndegek (Jangan menunduk.
Agak membusung),” kata Ma’mun. Iwan pun
mengubah gayanya memegang gitar.
“Nek penyanyi rock ngene lho! (Kalau penyanyi rock
begini lho!)” kata Ma’mun, mengambil gitar dan
memberi contoh.
Mereka diskusi sebelum tidur. Keesokan harinya,
Sofyan Ali, promotor Arena Indonesia Production,
memberi kabar buruk. Polisi Palembang
memberitahu ada radiogram dari markas polisi
Jakarta. Mereka melarang Fals melanjutkan tur
guna menghindari kekacauan. Padahal alat-alat
sudah siap, panggung sudah siap. Rencana
pertunjukan Palembang, Padang, Jambi, Medan, dan
Banda Aceh dilarang. Iwan menangis. “Buat Iwan
panggung adalah kehidupannya. Dia jadi hidup kalau
di panggung,” kata Ma’mun.
Ironisnya, polisi melarang ketika belum ada
penelitian tuntas mengapa keributan Jakarta terjadi.
Di mana-mana kump**an massa punya potensi
ribut, dari massa sepak bola hingga musik. Ini tak
berarti orang dilarang main bola atau nonton musik
bukan? Bagaimana kebudayaan manusia akan maju
kalau khawatir ribut? Bukankah polisi dibayar,
bahkan negara diadakan, agar kebudayaan bisa
maju, agar demokrasi bisa berkembang?
Lebih susah lagi. Di Indonesia, banyak orang malas
berpikir, banyak wartawan malas melakukan
reportase, dan lebih banyak lagi orang yang s**a
mengembangkan teori “pihak ketiga.” Di mana-
mana ada teori ini. Buruh dilarang demonstrasi
karena ditunggangi “pihak ketiga.” Mahasiswa bikin
rusuh karena “pihak ketiga.” Saya mempelajari
laporan berbagai suratkabar Indonesia dan melihat
ada tiga teori “pihak ketiga” di balik pembredelan
Mata Dewa.
“Pihak ketiga” pertama adalah “mafia Glodok” yang
meminjam tangan polisi untuk mematahkan gaya
distribusi kaset ala Sofyan Ali. “Mafia Glodok”
adalah sebutan untuk industri rekaman yang
berpusat di Glodok, Jakarta. Mereka kebanyakan
dikelola pengusaha Indonesia etnik Tionghoa dan
dianggap kurang menghargai seni, kurang
menghargai musisi, tapi menguasai distribusi kaset.
Spekulasi ini datang karena Iwan Fals pindah dari
Musica ke tempat Sofyan Ali.
“Pihak ketiga” kedua adalah “industri rokok
tertentu” yang meminjam tangan polisi guna
menjegal pemasaran rokok Djarum—sponsor utama
Mata Dewa. “Pihak ketiga” ketiga adalah pejabat-
pejabat “tertentu” yang tak senang dengan kritik
sosial Fals.
Tak ada bukti kuat untuk mendukung ketiga teori itu.
Tapi cukup banyak alasan mengatakan ketiganya
spekulatif. Iwan tak sepenuhnya pindah dari Musica
karena ia juga mengerjakan lagu Kemesraan
bersama artis Musica. “Saya merasa bersyukur
punya partner Musica,” kata Iwan pada saya. Bisnis
musik juga kecil sekali dibanding bisnis rokok.
Raksasa industri rokok Djarum (Kudus), Sampoerna
(Surabaya), Gudang Garam (Kediri), dan BAT
(Jakarta) memang bersaing tapi juga bergabung
dalam suatu kartel. Promosi lewat Fals memang
penting tapi hanya sebagian kecil dari promosi
Djarum. Keuntungan Djarum tahun lalu saja sebesar
Rp 2,08 triliun atau hampir dua kali lipat omzet
semua industri rekaman Indonesia. Siapa pejabat
yang tak s**a Fals? Setiawan Djody, rekanan bisnis
Sofyan Ali dan salah satu pemegang saham PT Airo
Swadaya Stupa, juga dekat dengan kalangan
pejabat. Mengapa tak ada yang bicara dengan
Djody?
Di Palembang tak ada verifikasi dan tawar-
menawar. Kekuatan negara Orde Baru sangat kuat.
Jangankan Iwan Fals. Protes dari hampir semua
organisasi nirlaba di Indonesia, terhadap
penggenangan desa-desa calon waduk Kedung
Ombo bulan sebelumnya, juga diabaikan rezim
Soeharto. Bank Dunia, yang mendanai Kedung
Ombo, tak berbuat banyak melihat puluhan ribu
petani mengungsi menyelamatkan harta dan nyawa.
Iwan melawan. Dia jalan sendirian ke Padang,
Jambi, dan lainnya, untuk memberitahu publik dia
tak bisa memenuhi janji karena dilarang polisi.
Ma’mun p**ang ke Jakarta membawa p**ang
peralatan dengan delapan truk. “Pakaian saya
bawa, kopernya saya bawa p**ang. Dia cuma bawa
pakaian satu.”
Di Jakarta, pelarangan itu juga memprihatinkan
musisi lain. Sawung Jabo, musikus dari komunitas
Sirkus Barock, menelepon Iwan untuk menyatakan
simpati. Iwan pernah ikut pementasan Sirkus
Barock pada 1986.
“Saya lupa persisnya. Suatu malam Iwan datang ke
rumah saya di Pasar Minggu, yang notabene rumah
tempat kami sering ngumpul. Iwan menawarkan
untuk membuat album,” kata Jabo.
“Pada awalnya Iwan, kalau tidak salah
mengusulkan nama Septiktank, tapi saya dan
beberapa kawan menolaknya. Lalu kita
mengusulkan nama yang kami pilih lewat lotere.
Setelah diundi terpilihlah nama Swami, yang
kebetulan nama itu usulan saya.” Ini plesetan dari
kata “suami” karena mereka semua sudah beristeri.
Rata-rata awak Swami pernah terlibat Sirkus
Barock. Baik pemain flute Naniel, pemain gitar bass
Nanoe, pemain piano Tatas, apalagi drummer
Inisisri yang banyak memberi warna musik Sirkus
Barock. Hanya Jockie Suryoprayogo dan Totok
Tewel agak baru di Sirkus Barock.
Mereka pun bekerja. Lagu paling spektakular
berjudul Bento. Iwan sempat mengajak Ma’mun
pergi ke studio tempat mixing dan minta komentar
tentang Bento. Ma’mun berkomentar, “Wah, ini
kayak virus. Ini cepet nyebarnya.”
“Iki piye Mas? (Ini bagaimana Mas?)” tanya Iwan.
“Apik. Virus kabeh (Bagus. Virus semua).”
Iwan dan kawan-kawan senang. Mereka makan
nasi bungkus sembari mengobrol hingga pagi.
Bento diciptakan Iwan dan Naniel. Liriknya tentang
seorang pengusaha serakah dan korup. Bisnisnya
“menjagal apa saja” asal dia senang dan persetan
orang susah. "Bento" sendiri artinya “goblok” dalam
dialek Jawa Timuran. Ketika mengarang Bento,
Iwan sempat memperhatikan seorang pengusaha,
yang kaya dan kejam, punya rumah real estate.
Karakter Bento dibuatnya dari pengusaha ini. “Tapi
saya nggak perlu sebut (namanya). Saya nggak
kenal pribadi, kenal jarak jauh,” katanya pada saya.
namaku Bento, rumah real estate
mobilku banyak, harta melimpah
orang memanggilku bos eksekutif
tokoh papan atas, atas segalanya, asyik
Sawung Jabo membantu aransemen lagu tersebut,
“Saya memasukkan unsur tema lead accoustic,”
katanya. Ketika beredar ke pasar, Swami memang
ibarat virus. Lagu Bongkar juga jadi salah satu hit.
Mula-mula media sempat bertanya-tanya apakah
TVRI bersedia menyiarkan Swami. TVRI waktu itu
satu-satunya stasiun televisi di Indonesia. TVRI
sepenuhnya dikuasai rezim Soeharto. Ternyata
tanpa ada keistimewaan, Bongkar muncul pada 13
Maret 1990. Ini mengejutkan banyak wartawan
musik. Sekali lagi teori “pihak ketiga” tidak laku.
PADA Maret 1990 rombongan Swami datang ke
Salatiga: Sawung Jabo, Iwan Fals, Naniel, Nanoe,
Inisisri, penyair W.S. Rendra, pengusaha Setiawan
Djody, dan sebagainya. Salatiga sebuah kota kecil di
tengah Pulau Jawa yang pada 1980-an secara
politik cukup dinamis.
Media banyak memperhatikan kedatangan mereka.
Bagaimana tidak? Djody miliuner kapal tanker yang
dekat dengan keluarga Soeharto. Rendra seorang
penyair, mungkin yang terbaik di Indonesia, yang
beberapa kali masuk tahanan Orde Baru. Jabo
pemusik yang sering bikin eksperimen bermutu.
Iwan sendiri dianggap makin memberontak sejak
Palembang. Sebuah kolaborasi unik.
Orang yang berperan mendatangkan Swami ke
Salatiga adalah Endi Agus Riyono A.S. atau biasa
disingkat Endi Aras—seorang mantan aktivis
mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana di
Salatiga dan wartawan majalah Film di Jakarta. Endi
orangnya ramah, rambut bergelombang sebahu,
murah senyum, pandai bergaul, s**a musik, dan
s**a ikut kepanduan. Juli lalu ketika saya
mewawancarai Endi, penampilannya tak banyak
berubah, walau perutnya agak buncit, sudah
berkeluarga, serta memiliki perusahaan sendiri
Matamata Communications yang bergerak di bidang
public relation dan event organizer.
Endi bertemu Iwan pada 1985 ketika ia diutus
rekan-rekannya menghubungi Iwan agar menyanyi
dan ceramah di kampus Satya Wacana. “Aku
disuruh cari ke Jakarta,” kata Endi. Mulanya Endi
cari di Musica tapi tak ada dan ketemunya di
Condet. Iwan keberatan datang ke Salatiga, “Aku
nggak bisa ngomong,” kata Iwan.
Iwan merekomendasikan penyanyi balada lain. Endi
penasaran. Endi pengagum Fals dan punya koleksi
lengkap album Fals. Endi pun menulis surat kepada
Iwan dan dibalas pakai tulisan tangan. “Apa yang
diomongin sama yang dipikir, lebih cepat yang
dipikirin,” kata Endi, menerangkan keengganan Iwan
tampil pada fora akademik.
Kejadian itu membuka perkawanan Endi dan Iwan.
Pada 1989 Endi bekerja di majalah Film. Sebagai
wartawan ia menulis soal Iwan. Ini praktik biasa di
kalangan wartawan musik Indonesia—menjalin
pertemanan dengan sumber-sumber mereka. Endi
dan Iwan sering telepon-teleponan. “Ndi kamu ke
sini,” ujar Iwan. Bila Endi dolan ke tempat Iwan,
mereka bisa mengobrol dari siang sampai malam.
Mereka juga sering naik mobil, mengobrol,
mengelilingi jalan tol. “Iwan itu senang kalau ada
teman ngobrol,” kata Endi.
Endi membawakan buku-buku untuk Iwan. Misalnya
Catatan Harian Seorang Demonstran tentang Soe
Hok Gie, aktivis mahasiswa 1960-an yang ikut
mengatur demonstrasi anti-Presiden Soekarno,
yang meninggal keracunan gas di Gunung Semeru
pada 1969.
Endi juga memberikan selebaran-selebaran gelap.
Iwan tertarik karena ia simpati pada orang
tertindas. Pada 1980-an ketidakpuasan warga
Indonesia terhadap rezim Soeharto makin tinggi.
Anak-anak Soeharto beranjak dewasa dan terlibat
dalam bisnis, dari monopoli cengkeh hingga jalan tol.
Militer juga makin kuat mengontrol kehidupan warga
walau di sana-sini ada gesekan internal antara
militer hijau (muslim) dan militer merah putih
(nasionalis).
Di Salatiga Endi sering menginap di kantor Yayasan
Geni—sebuah organisasi nirlaba yang banyak
terlibat gerakan protes. Satya Wacana 1980-an juga
kampus yang memberikan tempat untuk pemikiran
kritis, antara lain karena pengaruh dosen-dosen
liberal macam Arief Budiman, seorang doktor
lulusan Universitas Harvard, kakak kandung Soe
Hok Gie, yang getol bicara Marxisme, negara,
masyarakat, demokrasi, dan acapkali diwawancarai
media. “Iwan ngefans sama Arief Budiman,” kata
Endi.
Budiman dekat dengan mahasiswa, antara lain
dengan Stanley, panggilan seorang aktivis
mahasiwa yang nama lengkapnya Yosep Adi
Prasetyo. Stanley kawan dekat Endi. Budiman
sering mengajak Stanley, Endi, dan mahasiswa lain
ikut diskusi. Dari Stanley p**a Endi menerima
selebaran gelap dan buku. Endi menyampaikannya
pada Fals.
Ketika Swami mengeluarkan album, Endi menawari
Swami pergi ke Salatiga. Pucuk dicinta ulam tiba.
“Biaya dari Djody semua, panitia hanya ngurus
tempat. Kita agendakan ngobrol-ngobrol di rumah
Arief Budiman,” kata Endi.
Mereka datang lebih awal dan mengadakan dua
diskusi. Diskusi agak besaran diadakan di sebuah
guest house milik Satya Wacana, sebuah rumah
kolonial peninggalan Belanda, yang luas dan megah.
Rumah itu dipakai Djody dan peragawati Regina
Sandi Harun, istri muda Djody. Diskusi agak kecil
diadakan di rumah Budiman sembari makan malam.
Rumah ini terletak dekat sungai, dibangun dengan
konsep terbuka, menggunakan bambu, dan dijaga
beberapa ekor angsa. Budiman mengundang
cendekiawan setempat, antara lain pendeta Broto
Semedi, Stanley, dan beberapa mahasiswa lain
untuk diskusi dengan rombongan Jakarta. Saya
kebetulan ikut diundang.
Kami bicara santai, bersila, duduk dengan tikar.
Arief Budiman memancing Iwan Fals untuk masuk
ke dunia aktivis. “Seniman harus tahu politik,”
katanya. Budiman cerita soal Victor Jara dari Chile,
pendukung Presiden Salvador Allende, yang
terbunuh ketika Jenderal Augusto Pinochet
mengudeta pemerintahan sosialis Allende pada
1973. Budiman mengerti Chile dengan baik karena
tesisnya di Universitas Harvard tentang kegagalan
Allende memakai sosialisme. Victor Jara seorang
pemusik pop**ar mirip Fals. Lagu-lagu Jara penuh
kritik sosial. Jara juga main gitar akustik. Jara mati
bersama dengan Allende.
Saya punya kesan Iwan enggan atau malu
menanggapi Budiman. Iwan lebih banyak diam. W.S.
Rendra, teman lama Budiman, lebih banyak bicara
dengan gayanya yang teatrikal. Rendra khusus
memperkenalkan kami kepada Djody yang
disebutnya sebagai seorang pengusaha-cum-
seniman. Rendra mendominasi pembicaraan malam
itu dengan sekali-sekali ditanggapi Djody, dan
Sawung Jabo. Leila Ch. Budiman, istri Arief, jatuh
hati pada Iwan yang disebutnya “anak manis.”
Salah satu isu sampingan yang mereka diskusikan
adalah kejengkelan Rendra dan kawan-kawan
terhadap industri rokok. Mereka jengkel pada
industri ini—yang sering jadi sponsor utama
konser-konser musik—karena seenaknya
menempelkan pesan sponsor di panggung. Logo
rokok dipasang di pusat panggung. Mereka
memaki-maki industri rokok karena mengganggu
estetika. Mereka mengatakan sulit untuk tak
menerima sponsor rokok karena kontribusi mereka
besar tapi jangan begitu caranya.
Ironisnya, mereka kurang tertarik mendiskusikan
dampak rokok pada anak-anak muda penggemar
mereka. Mungkin karena mereka sendiri perokok
berat. Iwan juga perokok. Suratkabar-suratkabar
setempat memberitakan protes ini. Diam-diam
beberapa mahasiswa melihat para tamu Jakarta ini,
bukan saja mengisap rokok, tapi juga g***a.
Saya tak mau menghakimi. Beberapa teman saya
juga menggunakan g***a dan biasa-biasa saja.
Saya kira isu g***a bukan soal benar atau salah.
G***a mirip dengan rokok. Ia tak mematikan. G***a
berbeda dengan obat-obatan kimiawi macam
narkotik, esctasy, atau putauw yang bisa berakibat
fatal kalau kelebihan.
Iwan mengakui memakai g***a sejak Palembang.
“Habis gimana? Murah, bisa beli di mana-mana,
enak?” Jabo tak mau berkomentar soal g***a.
Dalam lingkungan Swami, mengisap g***a
mendapat semacam legitimasi karena dianggap
biasa. Djody dan Rendra juga saya lihat mencoba
daun g***a yang dilinting kecil.
“Tadinya mau kayak (penyanyi reggae) Bob Marley,
punya kebun g***a sendiri. Nyanyi, g***a, nyanyi,
g***a. Tapi kan dilarang hukum, (dilarang) agama.
Dalam hidup ini, orang yang nggak mabuk lebih
banyak dari yang mabuk,” kata Iwan.
Kresnowati, seorang mahasiswa Satya Wacana dan
kenalan Endi, ikut jadi panitia. Wati tak melihat g***a
tapi terkejut menyaksikan awak Swami, termasuk
Iwan, menggoda dan menjahili mahasiswi. “Ya …
kok gini?” pikirnya.
Wati menghibur diri dengan berpendapat Iwan laki-
laki biasa. “Manusia biasa yang punya talenta luar
biasa.”
Menurut kawan-kawannya, periode ini cukup liar
untuk Iwan Fals. Yos Rosana memutuskan pakai
jilbab. “Dia bilang panggilan sebagai seorang
muslim. Dia ingin memberikan contoh pada Iwan
dan anak-anak untuk lebih ingat agama,” kata
Fidiana, istri pemain kibor Iwang Noorsaid,
pasangan yang berteman dengan keluarga Iwan.
Yos juga agak khawatir pada pengaruh W.S. Rendra,
orang yang dianggap guru oleh Iwan, tapi punya
reputasi agak longgar dalam urusan perempuan.
Rendra menikah tiga kali. Djody juga baru menikahi
Sandi Harun. “Iwan kan good looking!” kata Wati.
Malam yang dinanti-nantikan pun datang. Swami
main di Lapangan Pancasila Salatiga. Malam itu
saya ikut menonton dan ikut bernyanyi, “Bento,
bento, bento.” Saya merasakan adanya semangat
perlawanan di sana dan bersyukur Indonesia punya
musisi macam mereka. Endi mungkin warga
Salatiga yang paling bahagia malam itu.
SAMBUTAN hangat membuat Swami plus Setiawan
Djody tertarik maju lagi. Mereka mendirikan
kelompok baru dengan nama Kantata Takwa.
Perbedaan personalia Swami dan Kantata Takwa
terletak pada W.S. Rendra dan Djody.
Djody jadi bos sekaligus pemain. Rendra memakai
syair-syairnya, termasuk puisi "Kesaksian" yang
terkenal itu, untuk dilagukan Kantata Takwa.
“Rendra tidak sekadar membuat lirik, tapi lebih dari
itu. Kadang dia sebagai alat kontrol pada proses
kreatif kami. Rendra p**alah yang memberikan judul
‘Kantata Takwa.’ Rendra ikut memberi warna dan
bentuk yang jelas pada Kantata Takwa. Terutama
pada saat pementasannya,” kata Sawung Jabo.
Djody mengeluarkan uang tapi agak tersinggung
kalau dianggap keberadaannya semata-mata
karena duit. Pada 1990, Djody pernah
mempersilakan saya datang ke rumahnya di daerah
Kebagusan, Jakarta Timur, melihat latihan Kantata
Takwa. Djody cerita masa lalunya di Solo ketika jadi
gitaris sebuah kelompok musik rock. Orangnya
flamboyan, rambutnya tersisir rapi, kulitnya bersih,
pakaiannya bagus. Rumahnya besar sekali. Besar
sekali. Ruang keluarga, yang menghadap kolam
renang, diubah jadi tempat latihan band. Di sana ada
lukisan Djody besar sekali. Saya menduga karya
maestro Basuki Abdullah.
Djody cerita bisnisnya dengan Sigit Harjojudanto,
putra sulung Soeharto, maupun Eka Widjaja dari
kelompok Sinar Mas. Dia juga cerita pergaulannya
dengan Jenderal Benny Moerdani, mungkin orang
terkuat kedua di Indonesia sesudah Presiden
Soeharto waktu itu. Moerdani dinilainya pintar dan
tahu seni. Tak ada rasa takut dalam cerita Djody.
Dia cerita isu yang agak pribadi tentang Moerdani.
Bisnis adalah bisnis. Seni adalah seni. Djody
mencintai keduanya.
Namun tak semua orang s**a dengan kolaborasi
ini. Beberapa penggemar Fals dan wartawan musik
menilai periode ini keiwanfalsan Iwan menurun. Ada
yang menilai Iwan lebih vulgar. Teori “pihak ketiga”
lagi-lagi dipakai. Ada yang menyalahkan Sawung
Jabo. Dulu lirik Iwan lebih puitis. “Setelah gabung
dengan Jabo lebih keras, Jabo kan s**a main
hantam?” kata fotografer Idon Haryana, menirukan
analisis wartawan tabloid Detak A.S. Laksana.
Banyak juga yang curiga pada W.S. Rendra. Lebih
banyak lagi yang curiga pada Djody.
Muhamad Ma’mun mengatakan, “Secara eksplisit
saya sampaikan, ‘Saya nggak s**a sama Mas
Djody.’ Saya sampaikan pada Iwan. Sampai
beberapa tahun, saya masih ngomong nggak s**a.
Saya nggak pernah sekali pun ketemu Djody. Diajak
ketemu Djody tapi nggak mau.”
Menurut Sawung Jabo, kalau Djody diragukan
integritasnya, Iwan pun tak mau membela atau
menjelaskan, karena dia sendiri “tidak tahu.”
“Intinya kami bersama telah berbuat sesuatu,
silahkan masyarakat menilainya sendiri. Apakah
yang kita kerjakan bersama itu ada gunanya atau
tidak?”
Ma’mun menganggap musik Kantata Takwa, yang
memakai koor, synthesizer, dan kecanggihan lain,
tak cocok untuk Iwan. “Ini bukan kemajuan. Yang
dikenal orang di gang-gang, di pasar-pasar, ya
lagu-lagu yang dulu. Karya besar nggak harus yang
susah dibawakannya.”
Ma’mun mengacu pada lagu-lagu Koes Plus dan
The Beatles. Dia menyebut lagu Imagine karya John
Lennon. Aransemennya sederhana tapi nilainya
tinggi. Ma’mun berpendapat karya-karya abadi
aransemennya sederhana dan mudah dimainkan
orang.
Rekaman album Kantata Takwa jalan lancar.
Menurut Jabo, Rendra terlibat mulai dari gagasan
awal. “Saya baru terlibat masuk di pertengahan
proses pembuatan materi lagu, sebelum dimulainya
proses rekaman di Gin Studio.” Lagu andalan
mereka berjudul Kantata Takwa yang dibuka dengan
dzikir. Albumnya diedarkan awal 1990. Sampulnya
bergambar Djody, Rendra, Iwan, Jabo, dan Jockie
Suryoprayogo. Ada satu kalimat berbunyi,
“Setiawan Djody mempersembahkan Kantata
Takwa.” Ini menimbulkan kesan album ini “hanya”
persembahan Djody—bukan Rendra, bukan Iwan,
bukan Jabo, bukan Suryoprayogo. Saya kira pilihan
ini kurang bijak.
Pertunjukan Kantata Takwa di stadiun Senayan
pada 23 Juni 1990 termasuk salah satu konser
musik terbesar yang pernah diadakan di Indonesia.
Media memberi perkiraan yang berbeda-beda. Ada
yang memperkirakan penontonnya 100 ribu orang
tapi ada juga yang 150 ribu. Sulit untuk tahu mana
yang lebih akurat karena metode perhitungannya
tak jelas Kapasitas stadiun Senayan sendiri sekitar
90 ribu.
Tapi berapa pun jumlahnya, penontonnya memang
banyak sekali. Mereka memakai lampu laser, bom
asap, sound system raksasa, panggung
spektakular. Atmakusumah Astraatmadja, mantan
redaktur harian Indonesia Raya dan kini ketua
Dewan Pers, termasuk salah satu penonton. Putra
sulungnya seorang pemanjat tebing yang ikut dalam
tim yang bertugas menyelamatkan pemain Kantata
Takwa bila terjadi kerusuhan. Mereka memasang
tali-temali dan bisa meluncur ke tengah panggung
bila ada keributan.
Astraatmadja gelisah melihat massa sebanyak itu.
Lelaki tua yang mendampingi empat remaja ini
masuk ke Senayan dengan bantuan polisi. “Itu
sebuah perlawanan kultural, bukan saja oleh Iwan
dan kawan-kawan, tapi juga para penonton,” kata
Astraatmadja. Dia menilai perlu keberanian luar
biasa untuk menyanyikan Bento.
Setiawan Djody, si pengusaha kapal tanker, tampil
main gitar listrik, seraya memekik-mekik. “Saya
heran kok berani-beraninya Setiawan Djody itu,”
kata Astraatmadja.
Endi Aras mengatakan Djody membiayai semuanya
Rp 1 miliar lebih. Ma’mun menanggapinya dengan
lebih hati-hati. Iwan dianggap bergaul dengan
orang-orang yang terlalu liberal untuk ukuran
keluarganya. Selesai Kantata Takwa, Iwan
melanjutkan Swami II yang beredar 1991. Album ini
kurang sukses. Sambutan jauh lebih kecil dari
Swami. “Saya sudah bilang pada Iwan, ‘Jangan
kamu ulangi lagi,’” kata Ma’mun.
Endi Aras mulai masuk lingkaran kecil Iwan Fals
pada 1994 ketika ia diminta jadi manajer Iwan.
Tanggung jawab Endi serabutan dan dasarnya
pertemanan. Kalau ada permintaan konser, Endi
yang berhubungan dengan panitia, mengurus
pembayaran, menyewa alat, dan sebagainya. Honor
Iwan sekali pertunjukan Rp 6 juta. Endi tak
menerima bayaran rutin. Kalau ada pekerjaan dia
diberi “uang transport.”
Endi juga jadi manajer produksi album Hijau. Di sini
Iwan memakai dua pemain kibor: Iwang Noorsaid
dan Bagoes A.A. Mereka banyak diskusi agar album
ini secara artistik bagus. Lagu-lagu tak diberi judul.
Hanya Lagu 1, Lagu 2, Lagu 3, Lagu 4. Endi dan
pemusik lain kurang setuju tapi semuanya kalah
argumentasi dengan Iwan. “Biar agak lain saja,”
kata Iwan.
Endi tambah stres karena produser Handoko dari
Harpa Record dan Adi Nugroho dari Prosound
bersaing membeli master album Hijau. Mereka
tawar-menawar. Endi lapor ke Iwan soal tawar-
menawar ini. Iwan malah tersinggung albumnya
ditawar-tawar. “Wah Ndi, masternya dibakar saja,”
kata Iwan. Gantian Endi yang jengkel karena merasa
kurang dihargai. Endi dua hari sekali menemui Iwan,
yang sudah pindah ke Cipanas, dua jam naik mobil
dari Jakarta. Mereka akhirnya menerima harga
Prosound Rp 365 juta termasuk sampul dan video
clip. Endi mendapat Rp 10 juta dari anggaran Rp 65
juta untuk biaya produksi.
Sampul kaset dibikin disainer Dick Doang dominan
hijau dengan menggunakan foto beberapa anak
kecil bermain lompat-lompatan. Iwan tak mau
namanya ditonjolkan. Dia tak mau sampul ada
fotonya. Menurut Endi, Iwan berpendapat status
mereka sama, delapan orang pemusik. Iwan mau
nama Iwang Noorsaid, Bagoes A.A., Cok Rampal,
Jalu, Ari Ayunir, Heiri Buchaeri, Jerry Soedianto,
dan Iwan Fals dicetak semuanya pada sampul. Dick
Doang, juga seorang penggemar Iwan, setuju usul
itu. Konsekuensinya, nama-nama musisi dicetak
dengan font kecil. Endi kurang setuju dan khawatir
kasetnya kurang laku.
Saya tanya pada Endi, kalau Iwan mau setara,
bagaimana pembagian honornya? Endi tersenyum
dan bilang Iwan “curang” karena honor musisi Rp
300 juta dibagi dua: 40 persen Iwan dan 60 persen
tujuh musisi sisanya. Artinya, Iwan dapat Rp 120
juta sedang lainnya rata-rata dapat Rp 25 juta.
Selama mengerjakan Hijau, Iwan berhenti
mengg***a, berhenti merokok, dan mulai salat.
Hari-hari di Cipanas dipakai untuk “rehabilitasi.”
Iwan tahu membuatnya tak bisa “panjang
nyanyiannya.” Tubuhnya bentol-bentol, emosinya
labil. Endi mengatakan ini periode “komunitas
bersih” karena beberapa pemain, termasuk
Noorsaid dan Heiri Buchaeri, rajin salat dan
hidupnya sederhana. Kresnowati mengatakan ada
juga musisi Hijau yang “pemakai berat g***a.”
Perubahan Iwan juga mengubah Karno, asistennya
yang setia, yang biasa membantu Iwan untuk
urusan pribadi, mulai mengatur instrumen musik
hingga menyiapkan lintingan g***a. “Karno lebih
seniman dari Iwan. Dia nggak menikah, mungkin
karena nggak dapat-dapat, dan penggemar Iwan,”
kata Wati.
Hijau diluncurkan 1992. Tak terlalu meledak di
pasar. Endi kecewa, merasa kurang dihargai. Endi
mundur dari pekerjaannya. “Endi punya kekaguman
yang sangat pada Iwan. Tapi juga kekecewaan.
Ngatur dia itu ruwet,” kata Kresnowati.
KETIKA Galang lahir pada 1 Januari 1982 si bapak,
yang perasaannya campur-aduk karena pertama
kali merasakan diri jadi ayah—merasa harus
bertanggung jawab, merasa mencintai, heran,
bahagia, bangga punya keturunan dan sebagainya—
menciptakan lagu berjudul Galang Rambu Anarki.
Lagunya cukup terkenal dan masuk album Opini
(1982).
Galang tumbuh jadi anak cerdas. Endi Aras sering
main tembak-tembakan dengan Galang. Muhamad
Ma’mun punya karakter rekaan yang sering
diceritakannya pada Galang. Namanya
“Gringgrong”—seorang jagoan “kayak Tarzan” yang
bisa mengalahkan harimau, naik kuda, dan
mengalahkan musuh. Tiap kali Ma’mun datang
menginap, cerita Gringgong ditagih Galang. Di
Condet hanya ada dua kamar, “Kalau saya nginep,
Galang tidur sama bapaknya,” kata Ma’mun.
Ketika beranjak remaja, Ma’mun melihat Galang
badannya bagus, berbentuk. Galang bukan tipe anak
hura-hura. Kalau minta uang paling buat bayar taksi
pergi ke sekolah. “Untuk beli-beli dia nggak punya
uang,” kata Iwan. Galang juga besar tekadnya.
Suatu saat Galang, yang belum bisa menyetir mobil
dan tak punya surat izin mengemudi, ingin bisa
mengendarai mobil. Solusinya? Galang mengendarai
mobil sekaligus dari Jakarta ke Pulau Bali!
Tapi kekerasan Galang suatu hari membuat Iwan
angkat tangan. Dia datang ke Ma’mun, “Mas gimana
nih, Galang nggak mau sekolah lagi?”
“Terus maunya apa?”
“Embuh, main musik atau buka bengkel.”
Galang memutuskan keluar dari SMP Pembangunan
Jaya di Bintaro, yang terletak dekat rumah dan
termasuk salah satu sekolah mahal di Jakarta. Iwan
sering pindah rumah dan waktu itu tinggal di
Bintaro. Hingga Leuwinanggung ia sudah pindah
rumah 12 kali. Usia Galang 14 tahun dan sedang
memproduksi rekamannya yang pertama bersama
kelompok Bunga. Iwan tak bisa berbuat banyak dan
membiarkan Galang putus sekolah.
Galang pernah juga kabur meninggalkan rumah.
Dalam pelarian, menurut Iwan, Galang melihat
poster dan foto papanya di mana-mana. “Dia
merasa diawasi,” kata Iwan. Galang merasa tak
bisa lari dan kembali ke rumah.
Suatu saat Iwan curiga. Iwan bertanya, “Lang, lu
pakai ya?”
“Mau apa tahu Pa?” kata Galang, ditirukan Iwan.
Iwan menganggap dirinya sudah insyaf. Kok Galang
yang memakai? Iwan merasa Galang meniru
papanya. Mula-mula rokok lalu obat. Endi Aras
mengatakan Iwan agak teledor kalau menyimpan
g***a atau merokok.
Galang menerangkan dia hanya mencoba. Rasanya
pusing serta teler. “Ya udah, kalau sudah tahu ya
udah,” kata Iwan.
Kebetulan Galang punya pacar, seorang cewek gaul
bernama Inne Febrianti, yang juga keberatan Galang
memakai obat-obatan. Inne mendorong Galang tak
memakai obat-obatan.
“Dia bukan pemakai. Dia sangat cinta pada
keluarganya. Kontrol diri sangat kuat,” kata Iwan.
Kamis malam 24 April 1997 sekitar pukul 11:00
malam Galang p**ang ke rumah, setelah latihan
main band. Dia makan lalu pamit pada papanya mau
tidur. Mamanya lagi tak enak badan. Iwan masih
mendengar Galang telepon-teleponan.
Subuh sekitar 4:30 Kelly Bayu Saputra, sepupu
Galang yang tinggal di sana, mau mengambil sisir di
kamar Galang. Kelly memanggil Galang tapi tak
bangun. Kelly mendekati Galang dan menggoyang-
goyangkan badannya. Lemas. Kelly kaget. Dia
mengetuk kamar Yos. Yos bangun dan menemukan
Galang badannya dingin. “Saya turun ke bawah,
panggil Iwan,” kata Yos.
Keluarga heboh. Iwan terpukul sekali. Pagi itu
saudara-saudaranya datang. Mereka menghubungi
semua kerabat dan teman. Leo Listianto, adik Iwan,
menelepon Ma’mun di Karawaci. “Saya masih tidur,
antara percaya, tidak percaya,” kata Ma’mun.
Sepuluh menit kemudian, Ma’mun ditelepon Dyah
Retno Wulan, adiknya Leo, biasa dipanggil Lala, juga
memberitahu Galang meninggal. “Saya bengong,”
kata Ma’mun. Dia segera menuju Bintaro.
Fidiana menerima telepon dari Ari Ayunir. Fidiana
membangunkan Iwang Noorsaid, suaminya, “Wang,
ini ada berita duka … Galang meninggal.” Mereka
agak tak percaya karena beberapa hari sebelumnya
pasangan ini bertamu ke Bintaro dan melihat Galang
mondar-mandir. Mereka mencoba telepon ke
Bintaro tapi nada sibuk. Mereka menelepon Herri
Buchaeri, Endi Aras, dan beberapa rekan lain
sebelum naik mobil ke Bintaro.
Endi Aras mengatakan, “Pagi-pagi aku dapat kabar.
Iwang Noorsaid yang telepon.” Endi sampai di
Bintaro sekitar pukul 5:30. “Aku ikut memandikan
(jasad Galang),” kata Endi.
Ketika Iwan memandikan jasad anaknya, dia berujar
berkali-kali, “Galang, kamu sudah selesai, papa
yang belum ... Lang, kamu sudah selesai, papa yang
belum ..…” Kalimat itu diucapkan Iwan berkali-kali.
Ma’mun dirangkul Iwan. “Jagain Mas, jagain anak-
anak Mas,” kata Iwan, seakan-akan hendak
mengatakan ia sendiri kurang menjaga anaknya
dengan baik.
“Yos histeris, menangis ketika saya peluk. ‘Aduh,
anak saya sudah meninggal mendahului saya,’” kata
Fidiana. Iwan tak banyak bicara, menunduk,
menangis, dan hanya bilang “terima kasih” kepada
tamu-tamu. “Kepada kita dia nggak ngomong sama
sekali,” kata Fidiana.
Galang dimakamkan di mana? Ada usul pemakaman
Tanah Kusir dekat Bintaro. Iwan emosional, ingin
memakamkan Galang di rumahnya. Bagaimana
aturannya? Iwan pun memutuskan menelepon kyai
Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dari Nahdlatul
Ulama. Saat itu Gus Dur belum jadi presiden
Indonesia. Iwan menganggap Gus Dur “guru
mengaji” yang terbuka, tempat orang bertanya. Gus
Dur mengerti hukum Islam maupun hukum
pemerintahan.
Gus Dur dalam telepon menjelaskan dalam aturan
Islam diperbolehkan memakamkan jenazah di
rumah. Pemakaman bergantung wasiat almarhum
atau keinginan keluarga. Tapi di Jakarta tak bisa
memakamkan orang di rumah sendiri karena
keterbatasan lahan. “Di Jakarta nggak boleh …
kalau Bogor boleh.”
Kata “Bogor” itu mengingatkan Iwan pada
Leuwinanggung. Keluarga pun memutuskan Galang
dimakamkan di Leuwinanggung.
Menurut Harun Zakaria, seorang tetangga Iwan di
Leuwinanggung, yang juga menjaga kebun Iwan, dia
dihubungi Lies Suudiyah, ibunda Iwan. “Bu Lies
datang ke sini. Dia bilang, ‘Cucunda meninggal.
Tolong di sini kuburannya,” kata Harun.
Jenazah disemayamkan dulu di masjid Bintaro.
Sekitar 2.000 jamaah salat Jumat di masjid itu ikut
menyembahyangkan Galang. Banyak seniman,
tetangga, kenalan Iwan, dan Yos datang
menyampaikan duka. Setiawan Djody, W.S. Rendra,
Ayu Ayunir, Jalu, Totok Tewel, Jockie
Suryoprayogo, juga tampak di sana. Spekulasi
wartawan maupun pengunjung memunculkan gosip
bahwa dada Galang kelihatan biru. Galang
digosipkan overdosis. Ini merambat ke mana-mana
karena tubuh Galang kurus ceking.
Orang sebenarnya tak tahu persis penyebab
kematian Galang karena tak ada otopsi terhadap
jenazahnya. Kawan-kawan Iwan memilih diam.
Mereka merasa tak nyaman mengecek spekulasi
overdosis kepada orangtua yang berduka.
Kresnowati pernah diberitahu Yos bahwa penyebab
kematian Galang penyakit asma. Fidiana
mengatakan beberapa hari sebelum kematian, Yos
mengatakan Galang lagi sakit-sakitan. Iwan
mengatakan pada saya, fisik Galang “agak lemah”
dan “Galang lemah di pencernaan.”
Namun Iwan dan Ma’mun menyangkal spekulasi
overdosis. Galang memang mencoba obat-obatan
tapi tak serius. Iwan mengatakan dua bulan
sebelum meninggal, Galang “sudah bersih.” Iwan
percaya anaknya punya kontrol diri.
Menurut teman-temannya, Yos menilai petualangan
Galang merupakan protes terhadap Iwan. Galang
butuh perhatian papanya tapi Iwan terlalu sibuk.
Yos di mata mereka lebih tabah menghadapi
kematian Galang. Iwan lebih terpukul dan menyesal.
“Setelah Galang meninggal, dia sudah nggak
nggelek-nggelek. Salatnya sudah rajin,” kata Endi
Aras.
September lalu di keheningan Leuwinanggung, saya
tanyakan pada Iwan bagaimana perasaannya
sekarang, lima tahun setelah kematian Galang.
Dia menggeser posisi duduknya dan mengatakan,
“Sampai sekarang masih ngimpi, terutama zaman
manis-manisnya ketika Galang masih kecil.”
Iwan mengatakan kalau bercermin pada masa-
masa ketika Galang masih ada, dia melihat
kekurangan-kekurangannya sebagai suami maupun
ayah. “(Kematian Galang) membuat saya
menghargai fungsi bapak, fungsi suami. Kalau saya
dulu bisa lebih bersahabat, jadi gurunya, jadi
lawannya, mungkin akan lain ceritanya.”
“Tapi ini semua nggak bisa dibalik.”
Diambil hikmahnya, Iwan bercerita bahwa kematian
Galang jadi “api” buat dirinya dalam bermusik.
“Dia pilih musik, bahkan dia keluar sekolah. Dia mau
menikah waktu itu. Dia percaya musik bisa
menghidupi istrinya. Masakan saya nggak berani …
rasanya di sini senep (sesak) … hoooaah … dari sini
senep … apalagi kalau kenangan-kenangan itu
datang,” kata Iwan. Dia tiba-tiba berteriak,
"Hoooooooaaaaah ...."
Saya mengalihkan pandangan mata saya dari mata
Iwan. Dia menelungkupkan kedua tangannya di
dada. Kami diam sejenak. Saya minta maaf karena
mengingatkannya pada kematian Galang. Iwan
bilang tak apa-apa. “Kadang-kadang kalau lagi
sedih … senep. Tapi kalau lagi senang ya lupa lagi.”
ROLLY Muarif termasuk satu dari sekian orang yang
sering menemani Iwan Fals pasca-kematian
Galang. Rolly seorang musikus kelahiran Gorontalo,
pernah menghibur penumpang kapal Kambuna
jurusan Manado-Jakarta. Kalau menganggur, Rolly
menjaga toko spare part di Kranggan, dekat
Leuwinanggung.
Iwan sering mengundang Rolly ke Leuwinanggung.
Iwan s**a melukis dan mengobrol dekat makam
Galang. “Sering curhat sama saya soal Galang
karena cuma ada saya doang,” kata Rolly. Dia juga
menemani Iwan main catur dan mengobrol hingga
subuh. Suatu saat Iwan bilang, “Kalau untuk anak
(kehilangan) ke orang tua, bisa dimaklumi, tapi
kalau orang tua ke anak, itu berat.”
“Saya memahami saja,” kata Rolly pada saya.
Iwan banyak melukis, kadang-kadang di rumah
Leuwinanggung lukisannya dipajang, dilihat dari
jauh. Rekaman album baru ditunda sejak kematian
Galang. “Saya disuruh memandang, kadang dibalik,”
kata Harun Zakaria, tetangga Iwan, yang juga sering
mengobrol pasca-kematian Galang. Iwan juga
memenuhi undangan dari masyarakat
Leuwinanggung, acara jaipongan, kematian,
pengajian, kenduri, perkawinan, salawatan. “Ke
mana-mana ajak saya,” kata Harun.
Iwan juga bermain sepak bola dan membayar
seorang pelatih untuk melatih anak-anak
Leuwinanggung. Harun cerita Iwan menyumbang
renovasi mushola dekat rumah mereka, “Karpetnya
disumbang Kak Iwan.” Iwan juga melatih karate. Dia
membuka dojo dan pesertanya sampai 200 orang.
“Saya latih sendiri,” katanya.
Ketika krisis moneter menghantam ekonomi
Indonesia, Iwan Fals sempat mencoba bikin lagu
untuk menggugah semangat orang berusaha. Karya
ini terhenti ketika demonstrasi-demonstrasi anti-
Soeharto makin keras. Pada Mei 1998 Soeharto
mundur dari kekuasaannya dan Indonesia
memasuki era demokratisasi. Perubahan besar-
besaran di ambang pintu. Iwan pun melihat saatnya
ia mengambil langkah baru.
Iwan Fals melihat banyak penggemarnya kurang
punya dasar ekonomi yang kuat. Iwan ingin
“memberdayakan” mereka. Iwan pun mendirikan
Yayasan Orang Indonesia dan minta Ma’mun jadi
wakil ketua, Endi sekretaris, Yos bendahara, dan dia
sendiri ketua.
Ini ternyata tak cukup. Iwan ingin melibatkan para
penggemarnya langsung. Ide ini dibicarakan dengan
Ma’mun, Yos, dan Endi. Hasilnya, mereka sepakat
mengundang para penggemar Fals, lewat ke
Leuwinanggung selama tiga hari pada pertengahan
Agustus 1999.
Kresnowati diminta mengorganisasikan pertemuan
itu. Lapangan belakang rumah Iwan ditutup pasir,
dibangun tenda besar 600 meter persegi untuk
tidur, dibelikan nasi bungkus, dan dicarikan sponsor
perusahaan air mineral. Iwan minta tukang
membangun 20 kamar mandi.
Ternyata sambutannya besar. Penggemar Iwan dari
banyak golongan datang. Ada pencuri, ada bandar
narkotik, karyawan biasa, bapak yang sepuh,
perempuan tomboy, juga wanita berjilbab. Ada juga
yang penampilannya “punk rock abis” dan bikin
Wati deg-degan. “Di luar pagar juga banyak yang
menunggu mau masuk. Maunya ketemu Iwan,
berfoto bersama,” kata Wati.
Ketika diskusi, kualitas mereka kelihatan beragam.
Ada yang berapi-api tapi banyak yang asal omong.
Antusiasme ini mengejutkan karena Iwan lama tak
muncul ke publik. Album terakhirnya keluar 1993.
Wati juga geli melihat tato pada penggemar Fals.
Banyak yang punggungnya digambari Iwan. Ada
p**a tato jidat, daerah antara alis mata, ditato kata
“Fals.” Dari Bandung sekelompok penggemar
menato kata “Fals” di antara jempol dan jari
telunjuk. “Kalau Fals pasti Iwan Fals. Kalau Iwan
kan banyak,” kata Ainun Rofiq, manajer restoran
cepat saji McDonald yang jadi bendahara Oi.
Semalam sebelum pertemuan, Iwan, Yos, Ma’mun,
Endi, dan Wati diskusi. Intinya, mereka mau
serahkan kepengurusan Oi kepada orang-orang
baru itu atau mereka pegang sendiri? Mereka
sepakat dipegang sendiri dulu. Kalau sudah jalan
diserahkan pada orang banyak.
“Saya nggak mau kalau ketua. Konsekuensinya
berat. Endi juga nggak mau. Sampai p**ang nggak
jelas. Ma’mun nggak mau juga. Ma’mun ingin Iwan
jadi ketua. Endi nggak mau (alasannya) ini khan fans
club. Endi keukeuh (harus) Wati,” kata Kresnowati.
Keesokan hari Kresnowati terpilih sebagai ketua Oi.
Menurut Digo Zulkifli, penggemar asal Bandung,
pada pertemuan tiga hari itu mereka diskusi: mau
jadi fans club atau organisasi massa. “Kalau jadi
fans club, idolanya sendiri, si bosnya (Fals) nggak
enak.” Mereka memutuskan jadi organisasi massa.
Wati pada tahun pertama lebih meletakkan dasar
administrasi. Mereka bikin kartu anggota, membuka
cabang, dan membuat arsip. “Nggak mudah
mengatur 10.000-an orang di seluruh Indonesia.”
Kini Oi diketuai Heri Yunarsa, seorang pegawai
negeri dari Serang.
Hambatan banyak. Wati melihat orientasi
penggemar Fals masih kabur antara organisasi
massa dan klub. Banyak yang masuk Oi untuk
“cium tangan” Iwan. “Kayak ketemu raja … apalagi
daerah lho ... kita jadi bingung ngeliatnya,” kata
Wati. Masalah dana juga hambatan. Iwan mungkin
orang kaya tapi mendanai organisasi butuh uang
besar sekali.
Entah apa yang akan terjadi kalau Iwan suatu saat
jadi kurang populer atau makin mengendurkan
musiknya? Bagaimana bila Iwan meninggal? Sejauh
mana Oi bisa bertahan kalau didasarkan ikatan
emosional pada lagu-lagu lama Iwan Fals?
Bagaimana mengubah loyalitas individu jadi loyalitas
organisasi? Bagaimana Oi bisa “memberdayakan”
anggotanya?
Saya ingat Elvis Presley, bintang musik pop
Amerika 1960-an, yang mengatakan, “Music is like
religion: when you experience them both, it should
move you.” Menurut Sun Record, album Presley
terjual lebih dari satu milyar selama masa hidupnya
(Love Me Tender, It’s Now Or Never atau Are You
Lonesome Tonight).

Address

Jln. Raya Leuwinanggung No 19
Depok
04158

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when ORMAS Oi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share