24/05/2016
Peserta: META MAHAYATI
Testimoni Workshop PINTU BELAJAR tanggal 15 – 17 Januari 2016
Aku mendapatkan pengalaman yang cukup menarik, pengalaman baru, teman baru dan keluarga baru. Ini adalah kesempatan kali pertama, aku pergi ke Jakarta dalam sebuah kegiatan.
Sejak jauh-jauh hari, aku dan temanku begitu bersemangat mempersiapkan kepergian kami, tiket kereta api pun sudah disiapkan. Sore itu kami berangkat dari Stasiun Besar Tugu Yogyakarta selama sekitar 9 jam perjalanan, sampailah kami di Stasiun Pasar Senen dan dijemput oleh Ko Yoppy dari PINTU BELAJAR.
Saat Workshop siap dimulai. Nampak wajah-wajah baru, yang ceria dan penuh s**a cita. Mereka adalah teman mahasiswa yang juga menjadi anak asuh pintu belajar yang berasal dari berbagai daerah. Aku berkenalan dengan mereka satu per satu.
Sebelum workshop dimulai, kami diberi sarapan hangat oleh Sis Inge, yang telah menggugah semangat kami dengan teriakannya yang mengguncangkan ruangan tempat kami berkumpul. Sontak, diantara kami yang masih mengantuk, langsung terbuka matanya. Kamipun diminta untuk melakukan hal yang sama, berteriak sekencang-kencangnya. Katanya kalau bisa, “Teriaklah sekuat-kuatnya, kalau bisa rubuhkan rumah ini”. “Hahahaa” kami pun serentak tertawa keras.
Sesi pertamapun dimulai, pengenalan diri keluarga BUDDHIST FELLOWSHIP INDONESIA serta pengantar dari ketua PINTU BELAJAR, yaitu Sis Anastasia yang cantik. Dengan semangat beliau menjelaskan program dari PINTU BELAJAR yang membantu membiayai anak-anak yang kurang dalam hal ekonomi serta berprestasi dalam bidang akademik. Kemudian selanjutnya kami mendengarkan pesan pembuka dari ketua BUDDHIST FELLOWSHIP INDONESIA, Ibu Wenny Lo. Beliau memberikan pesan dan nasihat singkat untuk kami peserta workshop. Sebagai muda-mudi Buddhis, hendaknya mampu berkarya, aktif dan andil dalam pelestarian Buddha Dhamma di daerah, dan terus mengukir prestasi. Ibu Wenny memberikan salah satu contoh teladan bagi kami yaitu Mbak Kustiani, yang juga merupakan salah satu anak asuh dari program PINTU BELAJAR.
Setelah makan siang bersama, sesi dilanjutkan dengan 6 Well Beings and 8 Core Value oleh Bro Irvyn Wongso. Hal yang menarik bagiku pada sesi ini adalah perjalanan hidup beliau yang luar biasa walaupun di saat itu aku mendengarkannya sambil mengantuk karena kekenyangan. Diakhir sesi, Bro Irvyn memberi kenang-kenangan untuk kami berupa CD albumnya “Dhamma Is My Way”. Betapa senangnya hatiku, sudah lama sekali aku ingin mendapatkan CD ini, namun belum kesampaian. Terimakasih Bro Irvyn untuk CD albumnya.
Sesi Good Communication Skill oleh Bro Harsono adalah yang paling ramai pada hari itu. Hampir keseluruhan dari kami saling berinteraksi, namun sayangnya belum sempat kami mempraktekannya bersama. Sesi demi sesi telah kami lalui di hari pertama, keseluruhannya sangat menarik dan banyak ilmu yang bisa dipraktekkan.
Di hari kedua, pagi hari kami bangun, lalu diajak untuk chanting dan meditasi, beberapa dari kami, masih bermalas-malasan untuk ikut, karena mengantuk. Tapi alhasil, semua tetap mengikuti. Setelah bersih diri dan sarapan, sesi di hari kedua dimulai kembali. Di awali dengan sesi Sikap Mental (Attitude) oleh Sis. Inge. Lagi-lagi sebelum dimulai kami disapa dengan teriakan semangatnya. Rasanya rasa malas langsung hilang. Di sesi ini banyak hal baru yang ku pelajari, yang dapat kujadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari, menciptakan pola pikir dan cara berpikir yang realistis dan optimis. Dengan cara melihat harapan yang kecil bisa menjadi besar, memandang setiap masalah dari sisi positif dan menjadikannya sebagai motivasi serta mengubah keberanian seperti yang telah disabdakan Sang Buddha, bahwa kita tak boleh lengah, dan harus menciptakan pulau perlindungan bagi diri sendiri. Inilah salah satu cara untuk menciptakan pulau itu.
Merayakan Perbedaan adalah sesi kedua hari ini. Bro Vendy Satria menyampaikan bahwa terdapat tiga hal yang patut kita rayakan yaitu dengan merayakan kemampuan dengan tindakan, merayakan kegagalan dengan menjadikan kegagalan itu sebagai suplemen bagi diri kita, menjadikan kegagalan itu sebagai keberhasilan yang tertunda. Serta merayakan apa yang ada, apa yang ada adalah segala seuatu yang mendukung kita, entah itu keluarga, tempat tinggal kita dan materi yang kita miliki.
“Saddha, Sila, Cagga, Pañña” adalah materi yang di sampaikan oleh Bro Fendy. Intinya adalah 4 hal ini, hendaknya dijadikan pedoman bagi diri kita dan diaplikasikan dalam kehidupan. Terutama untuk menemukan pasangan atau sebut saja pacar. Kami, diharapkan untuk bisa menemukan pasangan yang memiliki keyakinan, kemoralan, kedermawanan dan kebijaksanaan yang sama. Sehingga dapat saling mendukung bersama untuk menuju kehidupan yang bahagia.
Sesi Meditasi, adalah sesi yang menantang bagi kami, karena ternyata dari keseluruhan dari kami jarang sekali bermeditasi tiap harinya. Mungkin bermeditasi hanya sekali seminggu pas Puja Bhakti di vihara saja. Kalau tidak datang Puja Bhakti ya tidak meditasi. Kami dikritik habis-habisan oleh Sis Inge, karena sebagai seorang yang telah lama mengenal Agama Buddha, praktek meditasinya kok malah kurang. Sis Inge bilang bahwa dia tertarik belajar Buddhis justru melalui meditasi. Dia sudah melakukan meditasi rutin setiap harinya minimal 1 jam sehari, dan bila ditotal sejak pertama dia masuk Buddhis, sudah ribuan jam dia melakukannya sebagai kebutuhan. Luar biasa, aku menjadi malu dengannya. Dalam sesi ini, kami diberikan sebuah tantangan. Apa itu??? Kita semua wajib melakukan meditasi secara rutin setiap harinya minimal 15 menit selama 66 hari. Setiap anak menulis “SAYA BERJANJI UNTUK MELAKUKAN MEDITASI SETIAP HARI SELAMA 66 HARI KE DEPAN MINIMAL 15 MENIT”.
Akhirnya semua sesi dihari itu telah selesai. Malam harinya, kami berkumpul bersama di sebuah ruangan dalam momen yang santai. “Ketumbar” itulah kegiatan kami malam harinya. “Apa sih ketumbar itu?” pertanyaan yang muncul dari kepalaku ini. Setahuku ketumbar itu bumbu dapur, namun ternyata bukan. “Ketumbar” atau kepanjangannya Ketemu, Tumbuh, Bareng. Yang mana dalam kegiatannya, dilakukan diskusi, sharing, cerita pengalaman dengan teman-teman atau rekan kerja. Namun diskusi yang dibahas, memiliki topik sehingga pembicaraannya terarah. Di malam itu, kami semua menceritakan problem yang kita miliki. Teman-teman pun akhirnya tahu apa masalah yang terjadi pada kita dan memberikan usulan, bagaimana hendaknya kita mengatasinya, mencari solusi, dan menentukan apa yang akan kita lakukan kedepan.
Kebetulan malam itu adalah malam minggu. Karena ketumbar selesai sekitar pukul 21.00, kami pun berencana memanfaatkan waktu malam itu untuk keluar dari tempat kami tinggal. Ya sekedar melihat kondisi malam minggu di kota Jakarta. Sebenarnya kami semua bingung mau pergi ke mana, pertama tak ada kendaraan dan tidak tau tempat di sekitar sana. Akhirnya kami pun hanya keluar saja melihat-lihat tempat sekitar, sambil bersenda gurau bersama, menikmati malam terakhir kebersamaan kita.
Pagi pun datang lagi, hari ini adalah hari terakhir kebersamaan kami di acara ini. Setelah Chanting dan meditasi bersama, kami segera sarapan dan bersih diri. Hari ini, setelah sesi kesan dan pesan selesai, kami diajak ke BFI House untuk mendengarkan Dhammadesana dari Ibu Wenny. Yeee... akhirnya kami tahu dimana itu BFI House, tempat dimana kami mendapatkan bantuan dari para orang tua asuh dan donatur yang mendukung studi kami. Di sana kami juga dipertemukan dengan beberapa orang tua asuh dan berkesempatan untuk memberikan ucapan terimakasih kepada beliau-beliau yang telah bers**arela mendukung kami hingga sekarang. Semoga jasa kebajikan yang telah diberikan dapat menimbulkan kebahagiaan bagi para orang tua asuh dan donatur sekalian.
Akhirnya, kami pun berpisah setelah selama 2,5 hari kami bersama-sama, tinggal bersama, belajar dan saling bertukar pengalaman. Rasa sedih pastilah ada, harapan kami pertemuan ini bukanlah pertemuan yang terakhir bagi kami semua. Tentu kami, termasuk aku sendiri, kami dapat melakukan kegiatan ini lagi, berarti kegiatan ini diharapkan akan berlanjut untuk kedepannya sehingga komunikasi di antara kami terus berlangsung.
Harapanku setelah mengikuti kegiatan ini adalah, aku dapat mengaplikasikan apa yang telah kuterima dalam kehidupan sehari-hari, agar memberikan manfaat bukan hanya untuk diriku sendiri, tetapi juga untuk orang banyak dan tentunya manfaat itu dalam hal kebaikan. Aku akan berusaha terus merealisasikan tekadku yang telah kusampaikan kepada Bro dan Sis dari BFI.
Cerita ini kutulis sebagai bentuk rasa terimakasihku kepada BUDDHIST FELLOWSHIP INDONESIA, terutama PINTU BELAJAR, orang tua asuh serta para donatur. Semoga semua berbahagia. Sadhu, sadhu, sadhu.