12/02/2026
Jangan Asal Tanam Kalau Tak Ingin Terjadi Bencana
Budidaya tanaman apapun tentu saja baik. Apalagi kalau tanaman itu punya nilai ekoomis sekaligus mendukung keragaman hayati. Budidaya di tenaman di pekarangan rumah itu juga baik. Budidaya tanaman di kebun juga baik. Apalagi kalau budidaya tanaman menghasilkan itu dilakukan di lahan terlantar dan lahan terdegradasi.
Meskipun budidaya tanaman yang bernilai ekonomis dan ekologis itu baik, ada satu hal yang perlu diperhatikan, yakni kesesuaian jenis tanaman dan karakter lahan. Sebab, tidak semua jenis tanaman dapat ditanam di lahan tertentu. Beda kondisi lahan beda p**a tanamannya. Kalau memaksa tanaman di lahan yang tidak sesuai, bukan manfaat yang didapatkan, malah sebaliknya jadi bencana.
“Menggunakan lahan itu harus merujuk pada kesesuaian dan kemampuan lahan itu sendiri,” kata guru besar bidang pengelolaan tanah dan pengelolaan daerah aliran sungai Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Abdul Rauf. Petuah ini dipaparkan dalam diskusi ilmiah Dialektika Sawit Indonesia di Kampus USU di Medan pada 10 Februari 2026. Diksusi ini untuk mengkaji ulang bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera pada akhir tahun 2025 yang lalu.
Menurut Prof. Abdul Rauf, tanaman kelapa sawit tidak serta merta disalahkan dalam kasus bencana di Sumatera dan Aceh. Sebab, ada banyak faktor yang berkontribusi pada kejadian bencana alam ini. Selain anomali cuaca dan siklon tropis, ada juga faktor manusianya yang tidak memperhatikan kesesuaian lahan dan tanaman.
“Tanaman apa pun kalau ditanam di lahan yang tidak sesuai akan memicu bencana. Ini yang namanya illegal planting selain ada illegal logging dan illegal mining,” katanya. Kalau selama ini yang disalahkan tanaman sawit, yang salah bukan tanamannya, tapi manusinya, dan juga kebijakan penggunaan lahannya.
”Pembelajaran yang didapat dari bencana Sumatera, kita jangan rakus, angan asal. Kalau kita sudah mendapatkan lahan hak guna usaha, harus tetap berpedoman pada kesesuaian lahan,” katanya. Tidak bisa dimungkiri selama ini industri sawit adalah pilar ekonomi yang sangat penting. Sudah lebih dari 100 tahun kelapa sawit hidup dan tumbuh di Sumatera sejak dikembangkan pada 1911.
Prof. Abdul Rauf memberi contoh ada satu perusahaan di Sumatera Utara yang membuka lahan di hulu dengan kemiringan 100 persen atau sekitar 45 derajat. Padahal tidak semua tanaman cocok di lahan miring seperti itu. Misalnya kemiringan maksimal lahan untuk sawit adalah 20 derajat. Kalau lahan dengan kemiringan 45 derajat ditanami, potensi longsor semakin besar. Tanaman lain bahkan tidak cocok sama sekali di lahan miring, harus datar. Kalau dipaksakan, ya potensi longsor lebih besar.
Dia mendorong agar perusahaan sawit mulai menerapkan sistem budidaya multikultur. Sawit ditanam berdampingan dengan meranti, kakao, jabon, sengon, dan tanaman-tanaman lain yang mempunyai fungsi ekologi lebih baik. Konsep multikultur membuat kelapa sawit tumbuh lebih baik.
Selain itu, Prof. Abdul Rauf mendorong hutan di hulu daerah tangkapan air Sumatera harus ditanami kembali untuk memulihkan ekosistem secara keseluruhan. ”Segera dihijaukan daerah sepanjang badan sungai dari hilir hingga ke hulu. Perlu dibuat tanaman pagar seperti aren, matao, dan beringin yang sudah terbukti sangat kuat menahan longsor,” katanya.
Selain itu, fungsi hidrologis hutan Sumatera juga sudah berkurang karena serasah kelapa sawit diambil dari lantai hutan. Padahal, serasah di lantai hutan hujan tropis merupakan spons yang mempunyai fungsi hidrologis yang sangat penting. ”Serasah sawit bisa menahan 2-3 kali dari bobotnya. Kalau beratnya satu ton, serasah bisa menahan air hingga 3 ton,” katanya.
Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI) Kacuk Sumarto yang mengikuti diskusi ilmiah ini mengatakan banyak masyarakat yang hidup dari ”madu” yang dihasilkan industri sawit. Nah, kalau sudah dapat madunya, ya sarang lebah jangan diobok-obok agar masyarakat tetap dapat menikmati madunya.
Dia meminta agar bencana Sumatera jangan menjadi kampanye hitam untuk industri sawit. Yang perlu dilakukan adalah membangun dan menjaga industri sawit berkelanjutan. ”Sawit adalah madu bagi masyarakat. Tugas kita bersama adalah menjaga industri sawit. Jangan sampai madunya kita ambil, tapi lebahnya ditabokin, sarangnya diobrak-obrik,” katanya.