Sabda Alam

Sabda Alam Alam tak punya kata-kata, tapi dia bisa bercerita lewat fenomena.

Jangan Asal Tanam Kalau Tak Ingin Terjadi BencanaBudidaya tanaman apapun tentu saja baik. Apalagi kalau tanaman itu puny...
12/02/2026

Jangan Asal Tanam Kalau Tak Ingin Terjadi Bencana

Budidaya tanaman apapun tentu saja baik. Apalagi kalau tanaman itu punya nilai ekoomis sekaligus mendukung keragaman hayati. Budidaya di tenaman di pekarangan rumah itu juga baik. Budidaya tanaman di kebun juga baik. Apalagi kalau budidaya tanaman menghasilkan itu dilakukan di lahan terlantar dan lahan terdegradasi.

Meskipun budidaya tanaman yang bernilai ekonomis dan ekologis itu baik, ada satu hal yang perlu diperhatikan, yakni kesesuaian jenis tanaman dan karakter lahan. Sebab, tidak semua jenis tanaman dapat ditanam di lahan tertentu. Beda kondisi lahan beda p**a tanamannya. Kalau memaksa tanaman di lahan yang tidak sesuai, bukan manfaat yang didapatkan, malah sebaliknya jadi bencana.

“Menggunakan lahan itu harus merujuk pada kesesuaian dan kemampuan lahan itu sendiri,” kata guru besar bidang pengelolaan tanah dan pengelolaan daerah aliran sungai Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Abdul Rauf. Petuah ini dipaparkan dalam diskusi ilmiah Dialektika Sawit Indonesia di Kampus USU di Medan pada 10 Februari 2026. Diksusi ini untuk mengkaji ulang bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera pada akhir tahun 2025 yang lalu.

Menurut Prof. Abdul Rauf, tanaman kelapa sawit tidak serta merta disalahkan dalam kasus bencana di Sumatera dan Aceh. Sebab, ada banyak faktor yang berkontribusi pada kejadian bencana alam ini. Selain anomali cuaca dan siklon tropis, ada juga faktor manusianya yang tidak memperhatikan kesesuaian lahan dan tanaman.

“Tanaman apa pun kalau ditanam di lahan yang tidak sesuai akan memicu bencana. Ini yang namanya illegal planting selain ada illegal logging dan illegal mining,” katanya. Kalau selama ini yang disalahkan tanaman sawit, yang salah bukan tanamannya, tapi manusinya, dan juga kebijakan penggunaan lahannya.

”Pembelajaran yang didapat dari bencana Sumatera, kita jangan rakus, angan asal. Kalau kita sudah mendapatkan lahan hak guna usaha, harus tetap berpedoman pada kesesuaian lahan,” katanya. Tidak bisa dimungkiri selama ini industri sawit adalah pilar ekonomi yang sangat penting. Sudah lebih dari 100 tahun kelapa sawit hidup dan tumbuh di Sumatera sejak dikembangkan pada 1911.

Prof. Abdul Rauf memberi contoh ada satu perusahaan di Sumatera Utara yang membuka lahan di hulu dengan kemiringan 100 persen atau sekitar 45 derajat. Padahal tidak semua tanaman cocok di lahan miring seperti itu. Misalnya kemiringan maksimal lahan untuk sawit adalah 20 derajat. Kalau lahan dengan kemiringan 45 derajat ditanami, potensi longsor semakin besar. Tanaman lain bahkan tidak cocok sama sekali di lahan miring, harus datar. Kalau dipaksakan, ya potensi longsor lebih besar.

Dia mendorong agar perusahaan sawit mulai menerapkan sistem budidaya multikultur. Sawit ditanam berdampingan dengan meranti, kakao, jabon, sengon, dan tanaman-tanaman lain yang mempunyai fungsi ekologi lebih baik. Konsep multikultur membuat kelapa sawit tumbuh lebih baik.

Selain itu, Prof. Abdul Rauf mendorong hutan di hulu daerah tangkapan air Sumatera harus ditanami kembali untuk memulihkan ekosistem secara keseluruhan. ”Segera dihijaukan daerah sepanjang badan sungai dari hilir hingga ke hulu. Perlu dibuat tanaman pagar seperti aren, matao, dan beringin yang sudah terbukti sangat kuat menahan longsor,” katanya.

Selain itu, fungsi hidrologis hutan Sumatera juga sudah berkurang karena serasah kelapa sawit diambil dari lantai hutan. Padahal, serasah di lantai hutan hujan tropis merupakan spons yang mempunyai fungsi hidrologis yang sangat penting. ”Serasah sawit bisa menahan 2-3 kali dari bobotnya. Kalau beratnya satu ton, serasah bisa menahan air hingga 3 ton,” katanya.

Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI) Kacuk Sumarto yang mengikuti diskusi ilmiah ini mengatakan banyak masyarakat yang hidup dari ”madu” yang dihasilkan industri sawit. Nah, kalau sudah dapat madunya, ya sarang lebah jangan diobok-obok agar masyarakat tetap dapat menikmati madunya.

Dia meminta agar bencana Sumatera jangan menjadi kampanye hitam untuk industri sawit. Yang perlu dilakukan adalah membangun dan menjaga industri sawit berkelanjutan. ”Sawit adalah madu bagi masyarakat. Tugas kita bersama adalah menjaga industri sawit. Jangan sampai madunya kita ambil, tapi lebahnya ditabokin, sarangnya diobrak-obrik,” katanya.

Wah, Tak Lama Lagi, Salju Abadi Puncak Jayawijaya SirnaSiapa yang tak kenal salju abadi di Puncak Jayawijaya di tanah Pa...
12/02/2026

Wah, Tak Lama Lagi, Salju Abadi Puncak Jayawijaya Sirna

Siapa yang tak kenal salju abadi di Puncak Jayawijaya di tanah Papua? Inilah salah satu keajaiban Indonesia. Negeri dengan dua musim, namun punya satu daerah yang diselimuti salju sepanjang hari. Makanya, dinamakan Salju Abadi. Lokasinya di Pegunungan Jayawiaya, tepatnya di Puncak Jaya atau Carstensz Pyramid. Pegunungan Jayawijaya merupakan pegunungan tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Lokasi yang sangat tinggi menyebabkan temperatur di Puncak Jayawijaya sangat dingin. Temperatur udara akan turun 1 derajat untuk setiap ketinggian 100 meter. Dengan ketinggian gunung 4.884, temperatur di Puncak Jayawijaya turun sekitar 49 derajat Celsius dari temperatur di permukaan laut. Misalnya, kalau temperatur di pantai 30 derajat Celsius, maka temperatur di Puncak Jayawijaya berkisar -19 derajat Celsius. Temperatur suhu dingin ini yang menyebabkan Puncak Jayawijaya diselimuti salju sepanjang hari.

Tapi, ini kabar kurang nyaman. Status Salju Abadi tampaknya tak lama lagi berakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi salju abadi di Puncak Jayawijaya akan sepenuhnya mencair dalam waktu dekat. Berdasarkan pengamatan satelit dan riset jangka panjang, tutupan es di kawasan tersebut terus menyusut drastis dan diperkirakan akan hilang dalam satu hingga dua tahun ke depan.

"Kita sebenarnya memiliki ice core di puncak Jayawijaya yang sebenarnya sebentar lagi akan hilang," ujar Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG dalam Diskusi Ilmiah Dialektika Sawit Indonesia di Universitas Sumatera Utara, Medan pada 10 Februari 2026. Dalam seminar ini, BMKG menjelaskan bagaimana anomali cuaca pada November-Desember 2025 menjadi pemicu terjadinya banjir dan longsor di Aceh dan Sumatera.

Berdasarkan data pengamatan satelit menunjukkan tren penurunan luas dan ketebalan tutupan es di Puncak Jayawijaya terjadi secara konsisten dari tahun ke tahun. Luasan es yang dulu membentang luas kini tersisa sangat kecil. "Sekarang tutupan salju itu kurang dari 0,1 kilometer persegi, dari awal abad tahun 1900-an itu masih sekitar 10 kilometer persegi. Jadi, kemungkinan akan hilang tahun 2027 atau 2028," katanya. Kalian yang belum pernah ke sana, bersegeralah sebelum salju itu mencair.

Berdasarkan catatan BMKG dari analisis citra satelit Landsat sejak 1988 hingga 2025, luasan es di Puncak Jaya telah menyusut lebih dari 98%. Penyusutan ini tidak hanya terjadi pada luasan permukaan, tetapi juga ketebalan es yang terus menipis dari tahun ke tahun.

Dalam periode 2010 hingga 2016, misalnya, ketebalan es tercatat berkurang lebih dari lima meter, dengan laju pencairan rata-rata sekitar satu meter per tahun. Penurunan paling signifikan terjadi pada 2015-2016, seiring fenomena El Nino kuat yang menyebabkan kenaikan suhu dan berkurangnya curah hujan di wilayah tersebut.

Menurut Ardhasena, mencairnya salju abadi di Puncak Jayawijaya hampir tidak bisa dihindari. Kondisi suhu permukaan di kawasan tersebut kini sudah tidak lagi mendukung keberlangsungan es. BMKG menilai hilangnya salju abadi di Puncak Jayawijaya menjadi bukti nyata dampak perubahan iklim global. "Ini pasti akan hilang karena suhu di permukaannya sudah di atas titik leleh," kata dia.

Tak Seperti Lagu Koes Plus, 72% Tanah Pertanian di Indonesia SakitIni kabar mengejutkan, tapi sebenarnya sudah banyak ya...
06/02/2026

Tak Seperti Lagu Koes Plus, 72% Tanah Pertanian di Indonesia Sakit

Ini kabar mengejutkan, tapi sebenarnya sudah banyak yang paham. Tanah kita tidak sesubur dalam cerita-cerita masa lalu. Apalagi seperti lirik lagu Koes Plus tentang indahnya tanah Indonesia yang subur bak surga. Tongkat dan kayu dilempar saja sudah jadi tanaman.

Faktanya sungguh berbeda. Sampai tahun 2022, 72% tanah pertanian di Indonesia sakit karena kekurangan bahan organik. Itu menurut Guru Besar IPB University, Iswandi Anas Chaniago. Guru besar ilmu tanah ini bilang kondisi "sakit" itu diakibatkan oleh penggunaan pupuk kimia yang masih sangat tinggi. Dijelaskannya, di era 1960-an, tanah di Indonesia kondisinya masih baik, karena kadar organiknya masih sangat tinggi, sehingga dengan tambahan pupuk kimia pertumbuhan tanaman melompat dua kali lipat.

"Tapi sifat manusia ingin mudahnya saja, lebih memilik Urea atau SP saja daripada harus membawa pupuk organik begitu banyak. Akhirnya pupuk organiknya ditinggalkan. Sehingga lama kelamaan tanahnya rusak," terang Iswandi, pada webinar Menjawab Tantangan Peningkatan Produksi Padi dan Jagung Nasional dengan Pemupukan Berimbang, dikutip dari Antara, Sabtu (28/5/2022).

Pada 1930-1950, Pulau Jawa masih didominasi oleh kadar bahan organik tanahnya masih sangat tinggi. Akan tetapi pada 1960-1970 sebagian besar kadar organiknya kurang dari 1 persen, bahkan pada 2010 semakin rendah. Kini tanahnya rusak dan tidak gembur lagi.

Ia mendorong penggunaan pupuk organik. Apalagi Indonesia memiliki banyak sumber bahan pupuk organik, dari limbah peternakan, pertanian, perikanan, tempat pembuangan akhir, pabrik gula dan hutan tanaman industri.

Iswandi berpendapat, pemupukan berimbang antara pupuk organik dan pupuk kimia memiliki peran yang sangat penting untuk menjawab tantangan peningkatan produksi padi dan jagung nasional secara berkelanjutan.

"Jadi sebenarnya pupuk organik dan pupuk kimia bukan untuk dipertentangkan. Tetapo untuk digunakan bersama-sama. Pupuk organik dilengkapi dengan pupuk kimia," ujar Iswandi.

Selain mendorong penggunaan pupuk organik, Dewan Pakar Masyarakat Pertnian Organik Indonesia (Maporna) Ina Sri juga menyarankan untuk mulai mengurangi takaran pupuk kimia.

Manfaat pupuk organik adalah memperbaiki sifat fisik, kimia, biologi tanah sebagai sumber hara, mengurangi pemadatan tanah dan meningkatkan aktivitas mikroba tanah dan juga cacing tanah.

Tanah adalah sumber kehidupan, sumber pangan seluruh manusia di dunia. Because soil is life and the death of soil is the death of humankind. Untuk itu, kita harus lebih kuat dan lebih kencang mengingatkan dan mendorong para pembuat kebijakan untuk menjaga, memelihara, dan mempertahankan tanah, terutama kondisi kandungan organik tanah hingga pada tingkat yang mampu menyokong pangan dan kehidupan kita, yakni pada 3-6% kandungan organik.

Merelokasi Warga, Menghutankan Kembali Teso NilloPemerintah melalui Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH), ...
03/02/2026

Merelokasi Warga, Menghutankan Kembali Teso Nillo

Pemerintah melalui Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH), mulai mengganti kebun sawit warga dengan lahan di luar Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), pada 20 Desember lalu. Warga dari Desa Bagan Limau, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau, menerimanya. Tanaman sawit mulai ditebang, pemulihan lahan-lahan di Tesso Nilo itupun mulai jalan.

Relokasi lahan tahap satu itu menggunakan skema perhutanan sosial dengan status hutan kemasyarakatan (HKm). Adapun areal pengganti buat warga pada bekas lahan perusahaan sawit yang Satgas PKH sita, juga berada di sekitar TNTN.

Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan, langsung menyerahkan Surat Keputusan (SK) HKm kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) penerima manfaat. Antara lain, KTH Mitra Jaya Lestari, dapat bagian bekas lahan PT Perkebunan Nusantara (PTPN IV), di Desa Baturijal Barat, Kecamatan Peranap, Indragiri Hulu, seluas 349,84 hektar. Jumlah anggota kelompok tediri dari 108 keluarga.

Kemudian, KTH Mitra Jaya Mandiri dapat 173,31 hektar, di Desa Pesikaian, Kecamatan Cerenti, Kuantan Singingi, juga lahan eks PTPN IV. Anggota kelompoknya berjumlah 72 keluarga.

Selanjutnya, KTH Gondai Prima Sejahtera, 47 keluarga, menerima bekas lahan PT Peputra Supra Jaya (PSJ), seluas 110,63 hektar, di Desa Pangkalan Gondai, Kecamatan Langgam, Pelalawan.

“Kegiatan ini akan jadi percontohan bagi tempat lain dalam mengembalikan taman nasional sebagai hutan konservasi. Melalui relokasi, pemerintah hadir untuk memastikan satu hal yaitu taman nasional sesuai fungsinya,” kata Raja melalui siaran persnya yang diterima Sabda Alam.

Satgas PKH menetapkan relokasi lahan berikut warga serta reforestasi sebagai strategi utama pemulihan TNTN. Raja mengatakan, relokasi melalui pendekatan dialogis, kehati-hatian, dan menjunjung tinggi martabat serta hak masyarakat terdampak.

“Melalui relokasi ini, Kementerian Kehutanan menegaskan komitmennya untuk mengembalikan fungsi ekosistem hutan sebagai habitat penting gajah dan harimau Sumatera, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian kawasan hutan konservasi TNTN,” katanya.

Warga Bagan Limau, desa pertama yang jalankan relokasi juga disebut paling kooperatif mendukung pemulihan TNTN. Jauh sebelumnya, sejak 2021, di desa itu sudah ada upaya pemulihan ekosistem seluas 1.639 hektar.

“Kami berkomitmen dan mendukung upaya pengembalian fungsi dan pemulihan ekosistem kawasaan hutan TNTN, dengan upaya relokasi lahan masyarakat,” kata Syafirudin, Kepala Desa Bagan Limau.

Berdasarkan data Satgas PKH, per 18 Desember 2025, di Bagan Limau, Tim Percepatan Pemulihan Ekosistem TNTN (TP2ETNTN), memverifikasi 3.691 keluarga yang masuk dalam 44 kelompok tani dan tiga koperasi dengan luas sawit 10.106,58 hektar.

Bagan Limau, satu dari tujuh desa dalam TNTN. Sebelum jadi taman nasional melalui SK.255/Menhut-II/2004 dengan luas 38.576 hektar, lalu perluasan melalui SK.663/Menhut-II/2009, lanskap Tesso Nilo merupakan hutan produksi yang dikelola dalam skema hak pengusahaan hutan (HPH) oleh beberapa perusahaan, sejak 1970-an.

Merayakan Hari Lahan Basah Sedunia 2026Ini mungkin jarang terdengar: Hari Lahan Basah Sedunia. Diperingati setiap tahun ...
03/02/2026

Merayakan Hari Lahan Basah Sedunia 2026

Ini mungkin jarang terdengar: Hari Lahan Basah Sedunia. Diperingati setiap tahun sejak 1971 setiap tanggal 2 Ferbuari. Tahun ini, Hari Lahan Basah Sedunia mengangkat tema Wetlands and Traditional Knowledge: Celebrating Cultural Heritage atau Lahan Basah dan Pengetahuan Tradisional: Merayakan Warisan Budaya. Wetland International mengajukan tema ini sebagai upaya menyoroti peran abadi pengetahuan tradisional dalam menjaga ekosistem lahan basah dan melestarikan identitas budaya.

Lahan basah merupakan jantung kesejahteraan manusia dan planet, sangat terkait dengan solusi untung hilangnya kanekaragaman hayati, aksi iklim, dan ketahanan air, serta menjaga keseimbangan yang rapuh antara manusia, alam dan masa depan bersama.

Hari Lahan Basah Sedunia adalah perayaan yang berkaitan dengan lingkungan yang bermula pada tahun 1971 ketika beberapa pemerhati lingkungan berkumpul untuk menegaskan kembali perlindungan dan kecintaan terhadap lahan basah. Lahan basah adalah ekosistem air yang mengandung kehidupan tumbuhan dan organisme lain yang membawa kesehatan ekologis yang melimpah tidak hanya bagi badan air tetapi juga lingkungan secara keseluruhan.

Departemen Sekretariat Lahan Basah Sedunia berasal dari Gland, Swiss. Adopsi konvensi Ramsar di kota Ramsar, Iran terjadi pada 2 Februari 1971 yang kemudian diperingati sebagai Hari Lahan Basah Sedunia. Peringatan ini sebagai upaya meningkatkan kesadaran global akan peran penting lahan basah tidak hanya bagi manusia tetapi juga bagi planet ini. Para pelindung masyarakat dan pecinta lingkungan berkumpul pada hari ini untuk merayakan kecintaan mereka terhadap alam melalui perayaan, yang mengakui apa yang telah dilakukan lahan basah tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi semua jenis organisme di dunia.

Lahan basah merupakan salah satu ekosistem paling produktif di dunia, mulai dari lahan gambut dan hutan bakau hingga sungai dan dataran banjirnya. Mereka menyediakan layanan ekosistem yang tak tergantikan, seperti:

Menyimpan sejumlah besar karbon, sehingga meningkatkan mitigasi perubahan iklim.
Menyaring dan memurnikan air, menjaga pasokan air tawar .
Melindungi masyarakat dari banjir ekstrem, kekeringan, dan badai, serta meningkatkan adaptasi dan ketahanan terhadap perubahan iklim.
Melindungi keanekaragamanhayati yang luar biasa.
Mendukung upaya untuk membalikkan hilangnya keanekaragaman alam.
Lahan Basah adalah Pahlawan Super Iklim

Flora lahan basah sangat penting untuk adaptasi dan mitigasi. Hutan bakau dan padang lamun melindungi garis pantai dari gelombang badai dan kenaikan permukaan laut. Bakau juga merupakan pahlawan super dalam menangkap dan menyimpan karbon . Bahkan, diperkirakan bahwa bakau menyimpan empat kali lebih banyak karbon daripada hutan tropis lainnya. Lahan gambut hanya mencakup sekitar 3% dari daratan planet kita tetapi menyimpan sekitar dua kali lipat jumlah karbon daripada gabungan semua hutan di dunia .

Sebaliknya, hilangnya dan degradasi lahan basah memperburuk krisis iklim dengan melepaskan gas rumah kaca dan membuat ekosistem, serta masyarakat yang bergantung padanya, lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim. Sangat penting untuk mengakui perlindungan dan restorasi lahan basah sebagai solusi berbasis alam yang efektif untuk adaptasi dan mitigasi iklim, serta memasukkannya ke dalam rencana iklim nasional.

Hampir seluruh air tawar di dunia diambil langsung dari lahan basah. Lahan basah memainkan peran penting dalam pemurnian air, penyimpanan, dan pengendalian banjir . Lahan gambut bertindak seperti spons menyerap kelebihan air pada saat hujan lebat, dan melepaskannya secara perlahan pada saat kekeringan. Padang lamun dan akar bakau menghilangkan kotoran dan garam dari air laut. Lahan basah sangat penting bagi siklus air, sehingga dunia tanpa lahan basah akan menjadi dunia tanpa air tawar . Dan sayangnya, krisis iklim juga merupakan krisis air.

Ternyata, Urban Farming Bikin Suhu Lebih Adem!Praktik pertanian dengan memanfatkan lahan terbatas (urban farming) ternya...
13/01/2026

Ternyata, Urban Farming Bikin Suhu Lebih Adem!

Praktik pertanian dengan memanfatkan lahan terbatas (urban farming) ternyata dapat menurunkan suhu di perkotaan. Fakta ini terungkap dari penelitian pengembangan model urban farming multifungsi untuk daerah perkotaan oleh Fakultas Pertanian IPB University bersama Rikolto Indonesia dan Perhimpunan Indonesia Berseru.

Riset ini dilaksanakan di enam titik wilayah di wilayah Depok, Jawa Barat, periode tahun 2023 sampai tahun 2025. Hasil riset menunjukkan bahwa urban farming yang berorientasi ekologis mempunyai tiga fungsi utama.

Pertama, fungsinya sebagai penyedia pangan sehat bagi masyarakat perkotaan, terutama sayuran segar yang bebas pestisida, dengan harga terjangkau.

Kedua, adalah perbaikan kualitas lingkungan, yang ditandai dengan penurunan diurnal temperature range (DTR) atau rentang temperatur harian. Imbasnya, kawasan sekitarnya menejadi lebih nyaman dihuni. Model urban farming ekologis berbasis heat island ini memungkinkan adanya pengelolaan sampah rumah tangga untuk menjadi pupuk organik.

Ketiga, adalah fungsi ekonomi. Model urban farming ekologis berbasis heat island itu memungkinkan perputaran ekonomi dengan skala komunitas melalui aktivitas produksi dan penjualan produk lokal.

“Hasil penelitian selama dua tahun menunjukkan bahwa penerapan urban farming ekologis ini terbukti meningkatkan kesehatan tanah (soil health), ditunjukkan dengan tren peningkatan produktivitas beberapa sayuran utama dan penurunan tingkat serangan hama dan penyakit,” ujar Ketua tim peneliti sekaligus Dekan Fakultas Pertanian IPB, Suryo Wiyono pada Januari 2026.

IPB University menerapkan berbagai teknologi dalam model urban farming ekologis berbasis heat island ini. Teknologi pertama adalah penataan lanskap kebun untuk pemanfaatan ruang yang lebih fungsional dan efisien.

Kedua, adalah penggunaan mikroba agen hayati untuk pengendalian hama dan penyakit hingga mencapai zero pesticides (pendekatan pertanian tanpa pemakaian pestisida kimia sintetis). Ketiga adalah pemilihan jenis dan varietas tanaman.

Kemudian, yang keempat, adalah ameliorasi tanah. Terakhir, atau yang kelima adalah penggunaan automatic weather station (AWS) untuk perencanaan budi daya tanaman.

Sementara itu, akar agrometeorologi dari Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Idung Risdiyanto mengatakan, urban farming ekologis berdampak pada penurunan DTR secara signifikan.

“Ini membuktikan bahwa keberadaan kebun komunitas berkontribusi langsung pada penurunan suhu udara di sekitarnya dan memperbaiki kualitas termal lingkungan, yang berdampak positif pada penurunan risiko kesehatan warga perkotaan,” kata Idung.

Aksi Gila Isal Jerihkan Air Sungai CimunturDi sebuah dusun kecil bernama Sukasirna, Desa Maparah, Kecamatan Panjalu, Kab...
30/10/2025

Aksi Gila Isal Jerihkan Air Sungai Cimuntur

Di sebuah dusun kecil bernama Sukasirna, Desa Maparah, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, hidup seorang pemuda yang memilih jalan berbeda dari kebanyakan teman sebayanya. Saat yang lain sibuk dengan gawai dan kota, ia justru menghabiskan waktunya menyusuri sungai, membersihkan sampah, dan menanam pohon di sekitar sumber-sumber mata air. Namanya Isal Nur Hidayatulloh, dan di mata sebagian orang, dulu ia dicap gila.

Lahir pada 10 Oktober 1999, Isal tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Ikin Sodikin, adalah kepala dusun yang dihormati warga, sementara ibunya, Yayah Badriyah, seorang ibu rumah tangga yang sederhana. Sejak kecil, kehidupan desa yang damai dan dikelilingi hutan, sungai, serta udara segar telah membentuk apa yang ia sebut sebagai “karakter alam”, karakter yang menumbuhkan kepekaan sosial dan kepedulian tanpa disuruh, hingga menjadikannya gaya hidup.

Namun ketenangan itu perlahan berubah. Hulu Sungai Cimuntur dan Situ Lengkong mulai tercemar. Makin parah lagi, bukit Joho dan Bubulak perlahan gundul dan kritis. Di saat itu, tak ada pemuda lain di lingkungannya yang berani bersuara atau bergerak untuk melindungi alam. Bagi Isal, itu seperti melihat sahabat masa kecilnya sekarat. Ia tak sanggup diam.

Pada 22 November 2017, masih bersekolah di bangku SLTA di MAN 5, Isal justru memutuskan turun ke sungai. Ia menanam pohon di sekitar sumber-sumber mata air, mendirikan komunitas pecinta alam SISPALA GRILIS, dan mulai berbicara tentang konservasi di lingkungannya. Tapi langkahnya tak disambut hangat. “Saya sering dianggap gila,” katanya sambil tersenyum tipis. “Orang mengira saya pemulung, karena tiap hari bawa karung dan mainnya ke sungai.”

Ejekan tak hanya datang dari luar. Kedua orang tuanya sempat khawatir anaknya tak punya masa depan. Ayahnya bahkan mencarikan pekerjaan agar Isal punya penghasilan tetap. Namun Isal menolak dengan lembut. Ia punya keyakinan sendiri: bahwa menjaga alam bukan sekadar hobi, melainkan panggilan hati. “Saya ingin membuat orang tua saya bangga dengan cara saya sendiri,” ujarnya pelan.

Dari keyakinan itu, pada Oktober 2020, Isal mendirikan Paguyuban Sadar Lingkungan (PSL). Anggotanya hanya segelintir anak muda yang percaya bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil. Bersama mereka, Isal menanam ribuan pohon di Gunung Syawal, membersihkan mata air, dan memperbaiki akses menuju Curug Goong yang dulunya kumuh. Perubahan mulai tampak: Sungai Cimuntur berangsur jernih, bukit yang gundul mulai hijau, bahkan kelelawar “Buah Kai” yang sempat hilang kembali beterbangan di langit senja Panjalu.

Perlahan, cemoohan berubah jadi ajakan. Warga yang dulu menertawakan kini ikut membersihkan sungai. Pemerintah desa dan berbagai pihak mulai memberi dukungan. Hasil kolaborasi dan gerakan bersama itu turut menginspirasi lahirnya Peraturan Bupati Ciamis Nomor 27 Tahun 2021 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik, kebijakan yang tak lahir di meja rapat, tetapi dari kerja nyata di lapangan.

Namun perjuangan itu tak datang tanpa harga. Pada 2022, Isal memutuskan berhenti kuliah sementara agar bisa fokus merawat lingkungan. “Banyak yang kecewa,” ujarnya, “tapi bagi saya, alam adalah kampus terbesar.” Di situlah ia belajar arti ketekunan dan pengorbanan. Hari-harinya diisi dengan menanam pohon, memantau pertumbuhan, dan berbicara dari hati ke hati dengan masyarakat. Tak ada gaji, tak ada sorotan media. Tapi ada kepuasan yang tak bisa dibeli: melihat alam kembali hidup.

Puncak perjuangannya terjadi pada Agustus 2023. Masyarakat yang dulu menertawakannya kini ikut turun ke sungai, membawa karung dan bibit pohon seperti yang dulu ia lakukan sendirian. “Itu momen yang tak akan pernah saya lupakan,” kenangnya dengan mata berbinar. “Saya sadar, ketika niatnya tulus, alam dan manusia akhirnya akan bergerak bersama.”

Kini, Sungai Cimuntur bukan lagi simbol kerusakan, melainkan kebangkitan. Airnya kembali jernih, pepohonan tumbuh rimbun di tepian, dan kawasan Panjalu menjadi destinasi wisata edukasi lingkungan. PSL yang dulu kecil kini menjelma menjadi jaringan kolaborasi lima unsur pentahelix, yakni Pemerintah, Akademisi, Media, Komunitas/Masyarakat dan Dermawan untuk keberlanjutan alam dan lingkungan.

Atas ketekunannya, Isal meraih sederet penghargaan: Pemuda Pelopor Ciamis 2023, Relawan Terbaik Jabar Bergerak Award 2023, Teladan Wana Lestari Nasional 2024, dan Juara 2 Pemuda Pelopor Desa Nasional 2025. Namun baginya, semua itu hanya tanda syukur. “Penghargaan hanyalah bonus,” katanya tenang. “Yang penting, alamnya pulih dan masyarakatnya ikut bahagia.”

Di akhir percakapan, Isal berkata “Bergeraklah sampai orang lain menganggap kita gila,” ujarnya, “dan menggilalah sampai orang lain juga ikut bergerak.”

Kini, Sungai Cimuntur mengalir dengan damai, memantulkan bayangan pepohonan muda yang ditanam tangan-tangan yang dulu dicemooh. Dari desa kecil di Ciamis, seorang anak muda membuktikan bahwa menjaga alam tak perlu menunggu kaya, terkenal, atau berkuasa. Cukup teguh, jujur, dan tidak menyerah pada ejekan.

Dulu ia ditertawakan, kini langkahnya diikuti. Sungai yang dulu keruh perlahan berkilau, seolah mengenali tangan yang tak pernah berhenti peduli. Dari yang dianggap gila, lahir bukti sederhana: bahwa ketulusan bisa menumbuhkan kehidupan. Dari desa, untuk Indonesia.

Finlandia Kaya Raya Karena Sukses Merawat HutanFinlandia itu kaya. Padahal negara di Skandinavia ini lebih banyak hutann...
20/06/2023

Finlandia Kaya Raya Karena Sukses Merawat Hutan

Finlandia itu kaya. Padahal negara di Skandinavia ini lebih banyak hutannya. Dari 22,8 juta hektar luas Finlandia, 75% tertutup hutan. Hutan tidak hanya dibiarkan. Tapi, dikelola tanpa kerakusan. Negara ini memanfaatkan hasil hutan secara masif tapi tidak merusak lingkungan. Caranya, melalui manajemen yang berbasis ilmu pengetahuan dan hukum yang ketat,

Pemerintah Finlandia tidak mudah mengobral izin pengelolaan hutan. Jangan heran kalau negara ini asri, alami dan lestari. Hutan-hutan Finlandia menyimpan lebih banyak kayu dan menyerap lebih banyak karbon dibandingkan era sebelum industrialisasi dimulai.

Cara Finlandia mengelola hutan berakar dari budaya. Sejak awal abad ke-20, Finlandia menyadari bahwa kayu adalah emas hijau mereka. Tapi, emas ini akan tetap ada kalau mereka hutan diperlakukan sebagai sumber daya yang dapat diperbarui, bukan tambang yang habis sekali pakai. Industri kayunya cukup maju. Ada aturan menebang pohon. Tidak asal potong begitu saja. Total stok kayu di hutan Finlandia mencapai 2,5 miliar meter kubik.

Hutan Finlandia tumbuh sekitar 103 hingga 108 juta meter kubik setiap tahun. Sedangkan jumlah kayu yang dipanen untuk industri, kebutuhan energi, dan kematian alami pohon hanya 70-90juta meter kubik per tahun. Manfaat hutan ini kembali ke masyarakat karena model kepemilkan yang unik dan demokratis.

Sekitar 60% dari hutan produktif di Finlandia dimiliki oleh warga sipil atau keluarga kecil, bukan pengusaha besar atau negara saja. Ada 600 ribu pemilik hutan pribadi di negara dengan pop**asi hanya 5,5 juta jiwa ini. Makanya, ikatan emosional dan tanggung jawab ekonomi di masyarakat sangat kuat.

Bagi masyarakat Finlandia, hutan adalah tabungan masa depan dan warisan turun-temurun. Undang-Undang Kehutanan mewajibkan regenerasi hutan segera setelah penebangan dilakukan. Pemilik lahan tidak boleh membiarkan lahan hutan mereka gundul. Mereka harus menanam kembali. Makanya, setiap tahun, warga Finlandia menanam sekitar 150 juta bibit pohon secara kolektif.

Model pengelolaan ini membuat warga Finlandia makmur dari hutan. Sektor kehutanan menghasilkan 20% dari total nilai ekspor Finlandia. Nilai ekspor produk hutan Finlandia terdiri dari kertas, karton, kayu gergajian, dan lain-lainnya senilai 13-15 miliar Euro per tahun.

Dengan hasil ekspor yang tinggi, pekerjaan di sektor kehutanan jadi bergengsi. Ada 160 ribu pekerja di sektor kehutanan baik langsung maupun tidak langsung. Menjadi rimbawan atau operator mesin harvester adalah profesi terhormat. Profesi ini menuntut pendidikan tinggi, skill mumpuni dan semua itu disertifikasi oleh lembaga yang terpercaya. Tidak asal umbar sertifikat. Jangan heran kalau Finlandia bisa kaya dari hasil hutan.

Agam Rinjani, Bukan Pemandu Gunung BiasaKisah pendaki wanita asal Brasil, Juliana Marins, yang meninggal dunia di Gunung...
19/06/2023

Agam Rinjani, Bukan Pemandu Gunung Biasa

Kisah pendaki wanita asal Brasil, Juliana Marins, yang meninggal dunia di Gunung Rinjani, NTB, menjadi sorotan publik. Di tengah kabar duka itu, muncul sosok bernama Agam Rinjani yang dinilai sebagai pahlawan lokal yang berjasa dalam evakuasi Juliana Marins.

Dedikasi dan keberanian Agam dalam membantu mengevakuasi Juliana Marins menuai pujian luas, tidak hanya dari warganet Indonesia tetapi juga dari warganet di Brasil. Banyak yang menyebutnya sebagai "pahlawan tanpa jubah" dan "pejuang" yang rela berkorban untuk membantu orang yang tidak dikenalnya.

Agam Rinjani disebut sebagai sosok yang berjasa menolong Juliana Marins. “Dialah yang membentuk tim untuk mencari Juliana Marins, sementara pemerintah tidak peduli, dialah yang turun dari gunung berapi untuk menyelamatkan jenazahnya. Dan dialah yang naik ke atas dengan membawa tubuh Juliana. Kepadanyalah kita harus berterima kasih, bukan kepada Pemerintah Indonesia,” tulis akun *** di X.

Akun Instagram Agam Rinjani dibanjiri ucapan terima kasih dari warga Brasil. “Obrigada! Terima kasih banyak! Anda adalah manusia yang luar biasa!,” tulis akun *** pada Kamis (26/6/2025).

Ada juga akun *** menuliskan, “

Terima kasih telah membantu gadis kami, kami tahu bahwa Anda telah memberikan yang terbaik, Anda adalah pahlawan sejati, terima kasih yang tak terhingga kepada Anda, terima kasih, terima kasih teman-teman saya, semoga Tuhan memberkati hidup Anda”.

Siapa Agam Rinjani?
Pria bernama lengkap Abdul Haris Agam ini merupakan seorang pemandu gunung lokal yang mendedikasikan hidupnya untuk menjelajahi dan menjaga Gunung Rinjani. Ia menyebut dirinya sebagai "Guide Gunung Rinjani" dan merupakan pemilik usaha wisata yang menyediakan layanan open trip dan private trip untuk gunung dan pantai.

Reputasinya sebagai pemandu gunung yang berpengalaman tak perlu diragukan lagi. Agam dikenal memiliki pengetahuan mendalam tentang medan Rinjani yang menantang. Keahliannya tidak hanya sebatas memandu, tetapi juga dalam bidang vertical rescue dan penelusuran gua, menjadikannya “aset berharga” dalam setiap operasi penyelamatan.

Aksi heroiknya dalam keterlibatan evakuasi jenazah pendaki asal Brasil, Juliana Marins, mendapat pujian dari publik. Agam selalu mengingatkan pentingnya mendaki Gunung Rinjani dengan aman dan nyaman. “Mendakilah seaman dan senyamannya,” tulis Agam.

Dalam beberapa video yang menandai Agam Rinjani, terlihat perjuangan Agam dan beberapa orang lain ketika mengevakuasi jenazah Juliana Marins. Mereka tidur di pinggir jurang.

“Setelah memastikan kondisi korban telah meninggal, kami gabungan tim relawan menjaga korban dan bermalam di tebing vertikal yang curam dan kondisi bebatuan yang labil berjarak 3 meter dari korban, sambil menunggu tim yang lain untuk mengangkat korban dari atas,” tulisan di caption video tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang wisatawan asal Brasil, Juliana Marins (27 tahun), ditemukan tak bernyawa pada Selasa (24/6/2025) setelah terjatuh ke dalam jurang saat mendaki Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Proses pencarian berlangsung selama empat hari dan terkendala oleh cuaca buruk serta medan yang ekstrem.

Menurut keterangan Basarnas, korban terjatuh pada Sabtu pagi, 21 Juni 2025, sekitar pukul 04.00 WITA. Namun laporan mengenai insiden ini baru diterima Basarnas sekitar pukul 09.40 WITA. Hal ini disebabkan oleh jarak dan medan yang ekstrem antara lokasi kejadian dan pos pendakian terdekat, yang memerlukan waktu tempuh hingga delapan jam berjalan kaki. Begitu menerima informasi, tim SAR dari Kantor SAR Mataram langsung diberangkatkan ke lokasi kejadian.

Marins mendaki Gunung Rinjani bersama lima wisatawan asing lainnya dan seorang pemandu lokal. Saat menyusuri jalur sempit di tepian kawah gunung berapif aktif setinggi 3.726 meter tersebut, korban diduga terpeleset dan jatuh dari tebing yang mengarah ke Danau Segara Anak.

Estimasi awal, ia jatuh pada kedalaman antara 150 hingga 200 meter. Namun, kondisi tanah yang tidak stabil menyebabkan tubuhnya terus meluncur hingga mencapai kedalaman 600 meter pada hari ia dievakuasi.

Setelah jatuh, Marins juga dilaporkan masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Video drone termal dan rekaman ponsel menunjukkan ia masih duduk dalam kondisi sadar di tanah vulkanik, dan sempat memanggil minta tolong. Namun, kabut tebal, pasir vulkanik yang labil, dan keterbatasan peralatan membuat tim penyelamat kesulitan mencapai lokasinya.

Address

Graha Arda, Jalan HR. Rasuna Said Kav. B6 Kuningan, Jakarta Selatan
Jakarta
12920

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 12:00

Telephone

+6281298512771

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sabda Alam posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category