08/05/2015
Selepas Dzuhur di sebelah Masjid kecil di Semarang, saya menemukan seorang kakek penjual mainan anak-anak dengan tubuhnya yang kurus dan bungkuk sedang membaca Al Quran. Penglihatannya yang semakin kabur dimakan usia membuatnya harus semakin membungkuk sangat dekat dengan tulisan dalam kertas mushaf Al Quran agar dapat melihat dengan lebih jelas. Beliau membacanya dengan suara keras namun terbata-bata.
Suaranya yang parau dan bergetar dengan pelafalan huruf yang masih kurang benar memang sama sekali jauh dari merdu dan enak didengar. Tapi entah mengapa saya tertarik untuk mendengarkannya. Selama setidaknya satu menit saya terbengong berdiri di belakangnya, menatap tubuh rentanya dengan pandangan yang entah harus saya definisikan bagaimana.
Ada kedamaian yang menyusup di dada. Berbagai jenis perasaan turut memenuhi hati saya kala memandangnya. Trenyuh, haru, sedih, kasihan, malu dengan diri sendiri, bersyukur atas nikmat diri, dan sebagainya.
Entah mengapa menurut pandangan saya, Kakek ini begitu dekat dengan Rabbnya, dekat dengan syurga. Kakek ini hanya bekerja sekuat yang mereka bisa, memenuhi kewajiban dari Allah untuk mencari nafkah bagi keluarga di rumah. Beliau hanya berusaha melawan keterbatasan yang mereka miliki untuk beribadah kepadaNya. Walau payah, meski susah, mereka tak pernah kalah oleh lelah.
Berangkat dengan keyakinan penuh pada Rabbnya dan pulang kembali ke rumah untuk mensyukuri seberapapun dan apapun yang mereka dapat hari itu. Sesederhana itu. Begitu jujur dan tulus, tanpa ambisi dan dusta. Hidupnya adalah bentuk pengabdian utuh kepada Rabbnya.
Saya mungkin telah mengenyam pendidikan tinggi di kampus negeri bergengsi, memiliki profesi dan gelar mentereng, memiliki kedudukan yang baik di masyarakat dan diberi kecukupan materi. Namun bisa jadi di sisi Allah saya tak lebih baik dari beliau yang bahkan SD saja mungkin tidak tamat, yang bahkan untuk makan tiga kali sehari saja mungkin masih susah.
Melihat Beliau, membuat saya tertampar dan terpaksa kembali berkaca melihat ke dalam diri sendiri. Sudahkah saya menjadikan kerja sebagai bagian dari ibadah saya kepada Allah? Sudah luruskah niat dan orientasi saya dalam hidup ini, ataukah masih pekat ia dengan ambisi duniawi? Masih sadarkah bahwa dunia hanya sementara dan ada pertanggungjawaban di akhirat sana? Astaghfirullah…
Hal ini membuat saya memahami bahwa hidup sebenarnya sangat sederhana. Sesederhana embun pagi yang disambut dengan nafas bakti pada Ilahi. Sesederhana senja yang dijemput dengan syukur tanpa jeda kepada-Nya. Sesederhana malam yang ditutup dengan senyuman kemenangan menuju Allah.
Jika berkenan mohon sharingkan pada yang lain.