24/10/2022
KEPADA ANAK-ANAKKU
Ahmad bin Muhamad Al Ganis bin Ajjaj An Nahdi
(Sair komunitas Arab Irsyadin/Non Alawiyin yang dibuat pada tanggal 5 Zulkaidah hari Sabtu tahun 1321 Hijriah, atau bertepatan dengan tahun 1901 Masehi di Cirebon. Berisi petuah, wasilah, dan nasihat pegangan hidup bagi keempat anaknya Umar, Saleh, Abdullah, dan Muhamad yang dilepas untuk belajar menuju ke Hadralmaut Yaman. Bentuk aslinya dalam bahasa Arab dan diterjemahkan Jeffry Alkatiri dalam tulisannya Menghilangnya Tradisi Bersair Masyarakat Keturunan Arab di Pesisir Pulau Jawa dalam Majalah: JUMANTARA, Edisi: Vol. 4 No. 2 - Oktober 2013)
Bait Pembuka:
• Ba sin lam alif lam ha (Bismillah), Wahai yang kepadaNya aku bertawasul dan berdo’a.
• Wahai yang jika mengatakan jadilah maka terjadilah, baik yang Engkau tak inginkan maupun yang Engkau inginkan (taqdirkan).
• Wahai yang meninggikan tujuh lapis langit dan menghamparkan bumi serta yang menghidupkan tumbuhan dengan air.
• Dan yang mengalirkan pernafasan manusia bahkan Kau menghitungnya dan memberikan rizkinya melalui (pernafasan).
• Ampunilah dosa-dosaku saat aku masuk ke dalam Barzah, ketika Malaikat Munkar dan Nakir datang untuk mempertanyakan amalku.
• Wahai Rabbku teguhkanlah hatiku dengan perkataan yang kokoh (Lailahaillah), Allah Rabbku, penciptaku dan pelindungku.
• Dan Nabi Muhammad penutup para Rasul yang mulia adalah Nabi kami dan kiblatku adalah Ka’bah yang bercahaya.
• Dan kaum Muslim adalah saudara-saudara kami dan itulah sebagai pembeda jika penetapan telah tiba waktunya, ketika aku masuk ke dalam lahatku.
• Tak ada yang aku miliki selain ampunanMu dan prasangka baikku kepadaMu, maka jangan pupuskan harapanku ya Allah.
• RahmatMu wahai Yang Maha Menaungi, meluaskan segala sesuatu dengan adil tanpa sedikitpun salah dan cela.
• Seandainya saja hanya orang-orang baik yang Engkau harapkan, maka kepada siapa lagi orang-orang berdosa akan mengadu dari kegundahannya.
• Dan Muhammmad hambaMu yang diberi anugrah memberi syafaat untuk umatnya dari merahnya jilatan api neraka.
• Dia yang mampu menembus tujuh lapis langit dengan Buraq Almustofa (SAW), UtusanMu yang diberi keistimewaan Isra dan Miraj.
• Shalawat Allah senantiasa tercurahkan kepadanya selama matahari terbit dan setiap bulan purnama mencurahkan sinarnya.
• Beserta keluarga beliau, sahabat yang mulia lagi sempurna serta orang-orang yang setia dan memiliki kedudukan yang tinggi.
• Dan juga kepada segenap keluarga, sahabat-sahabatnya yang mulia, yang senantiasa memegang teguh janji dan perjanjian yang agung ini dan yang menjual jiwanya dengan surga.
• Serta kepada mereka yang menegakkan agama yang lurus ini dan mengorbankan nyawa demi Surga Allah yang dijanjikan.
Bait Pertama:
• Kemudian berkata Abu Salih, aku terhenyak dari tidurku, sampai-sampai orang lain merasa iba melihatku.
• Tak seperti hari Sabtu yang telah melewatiku, pada malam minggu yang muram dan kelabu.
• Pada tanggal 5 Zulkaidah, di tahun 1321 Hijriah atau tahun 1901 Masehi.
• Aku berusaha tidur, sedang aku tak kuasa, bersama itu aku melihat bintang yang menemaniku sepanjang malam.
• Duduk diam dan sedikit bergerak, hanya tangan kananku mencoba untuk menulis.
• Setelah aku kehilangan buah hatiku dan ke empat anakku bertekat untuk pergi meninggalkanku.
Bait Kedua:
• Aku bersabar tetapi hatiku berdegup kencang, sedang aku tak dapat lagi melangkah. Bukanlah sebuah kesalahan bila seorang yang akan mengembara ingin kembali pulang.
• Aku berdiri di atas pelabuhan laksana orang bingung dan pergilah kapal laut itu bersama air yang mengalir.
• Jikalau aku ungkapkan apa yang ada dalam hatiku dan deritaku, niscaya batu yang sangat keras pun akan meleleh.
• Abdul Jalal, terguncang pikirannya dan berubah raut wajahnya, hatiku bagai teriris melihatnya.
• Matanya berlinang dengan airmata dan tangisnya mengguncangkan, maka bergetarlah oleh sebab itu anggota badanku.
• Perasaan berpisah yang amat sangat berat baginya dan begitu pulalah bagiku, akan tetapi aku menyembunyikannya.
• Dan aku menitipkan mereka kepada Rabbku yang maha penyayang dan maha penjaga, yang tak menyianyiakan, wahai yang menyingkap mara bahaya.
Allah menghantarkan mereka ke sana dan aku akan mendapatkan kebaikan dariNya. Akhirnya, aku pun pulang dari tempat yang begitu berat ini dan bukankah hanya Allah saja yang dapat kembali menyatukan kami semua.
Bait Ketiga:
• Wahai Engkau yang menolongku menuliskan bait-bait ini, setelah aku mengantar mereka pergi beserta kalimat-kalimatku serta membekali mereka untuk menaiki kapal laut.
• Setelah dua belas hari perjalanan, maka dari kejauhan akan menampakkan padamu puncak gunung yang berwarna merah (Mukalla).
• Turunlah di pelabuhan yang memiliki pagar tinggi nan kokoh yang dikelilingi penjagaan yang ketat.
• Janganlah berlama-lama di sana, bersegeralah pergi bersama kendaraan yang cepat, carilah kendaraan (Unta) yang paling cepat untuk pergi bersama kalian.
• Kalian akan menaiki gunung, menuruninya dan melewati bebatuan dengan cepat, lebih cepat dari pada burung (padang pasir) jantan maupun betina ketika terbang.
• Jalan turun berliku-liku hingga Magrib tiba dan janganlah kalian biarkan untamu untuk pergi mencari makan.
• Longgarkanlah ikatanmu dengan untamu dan berjalanlah melewati lembah berliku yang terdapat air.
• Di tempat Mahzar milik Bani Ubats yang memiliki kedudukan yang tinggi, pemilik senjata api dan pisau (jambiye).
• Janganlah berjalan ke kiri dan ke kanan, mudah-mudahan hujan tetap turun ke tempat suku Raudhon.
• Setelah fajar menyingsing akan ditampakkannya kepadamu, begitu banyak orang-orang yang membangun bangunan nan kokoh.
• Pada perbatasan Raudhon terdapat para penjaga yang menunggu, begitu banyak orang-orang disana yang kuat akan tetapi keadaannya sulit.
• Pergilah ke Gaudhoh niscaya kalian akan mendapati padanya obat penawar bagi orang-orang yang baik dan racun terhadap para musuh.
• Sampaikan salam kepada Mubarak ibn Muhammad, yang memiliki kedudukan yang tinggi lebih tinggi dari pada Pluto, Gemini, dan bintang lainnya.
• Masing-masing memiliki Syaikh yang memiliki kedudukan nan tinggi, jikalau engkau mendapatkan masalah, hendaklah engkau bersungguh-sungguh dalam beradu pendapat.
• Padanya (Mubarak ibn Muhammad) terdapat kepemimpinan, kedermawanan serta mampu membongkar terhadap pengakuan yang palsu (tak benar).
• Suku Sa’fatah yang menarik perhatian, yang ketika datang padamu masalah, bergegaslah untuk pergi menghadapinya.
• Padanya terdapat penepatan janji, kedermawanan serta penghormatan kepada tamu-tamunya, sampai-sampai untanya pun dihormatinya dengan diberi makanan.
• Dan terhadap musuh yang memotong hidung-hidungnya dengan senjata yang mahal yaitu senjata api dan pisau (jambiye).
• Dia menganggap kecil perkara yang besar bersama jamaahnya yang datang kepada mereka pada saat yang dibutuhkan.
• Setelah salam yang sempurna baginya (Mubarak ibn Muhammad), beserta para sahabatnya,
• Maksud dari kalimat dan bait-bait syairku ini kutujukan untuk anak-anakku.
• Dan katakanlah kepada Shaleh ketika berangkat bersama tujuh orang lainnya, tidurku laksana berjalan di dalam kegelapan.
• Ketika anak-anakku itu datang ke rumahku dan pada saat aku memanggilnya, mereka semua pun menjawab panggilanku.
• Semoga Allah menyampaikan mereka dan mengumpulkanku dengan mereka dengan membawa kabar gembira.
• Aku tak terbebani dan tak terbesit di benakku (pikiran yang jelek) dan mereka datang kepadaku dari yang kecil hingga yang besar.
• Semuanya berawal dari umur 60 tahun bagiku dan kekuatanku pun terus melemah.
• Wahai Shaleh, sampai-sampai rumahku seperti terbalik dan pikiranku menjadi sirna bersama dengan kepergianya.
• Oleh karena itu, aku mewasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Rabb kalian, semua yang diwajibkan sampaikan dengan cara melaksanakannya.
• Bertaqwa kepada Allah yang Esa, yang bergantung kepadaNya segala sesuatu maka kalian akan beruntung baik dunia maupun di akhirat
• Juga di setiap perkataan yang yang haq (benar), maka katakanlah, janganlah berkata dengan yang jelek dan terburu-buru sehingga kalian akan tergelincir yang disebabkan oleh ucapanmu.
• Jika diam itu diumpamakan laksana emas, maka berbicara itu laksana perak putih.
• Dan condonglah kepada musyawarah dengan orang yang pandai, niscaya kalian akan menjadi bijaksana dan tegas serta akan banyak mengetahui terhadap banyak urusan.
• Janganlah kalian bertindak sebelum dipikirkan dengan matang dan bermusyawarahlah dengan orang yang ahli untuk bermusyawarah.
• Dan penutupnya salawat senantiasa tercurahkan atas baginda Abdul Qasim, kakek dari Hasan, yang senantiasa selalu aku senandungkan.