Desa Wisata Timbrah Pertima

Desa Wisata Timbrah Pertima Halaman resmi Desa Wisata Timbrah Pertima, Kec/Kab.Karangasem,Bali, 80811.

Sampai kita berjumpa di tahun depan βœ¨βœ¨βœ¨πŸ“· .creator IB Gede Prayoga Giri Putra
18/07/2026

Sampai kita berjumpa di tahun depan ✨✨✨

πŸ“· .creator IB Gede Prayoga Giri Putra

14/07/2026

πŸŽ₯ Arie Permana

Tradisi Mabarang di Desa Adat Timbrah, Desa Pertima, Karangasem merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian A...
14/07/2026

Tradisi Mabarang di Desa Adat Timbrah, Desa Pertima, Karangasem merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian Aci Usaba Sumbu, sebuah upacara syukur yang dihelat satu tahun sekali dan dilaksanakan pada Sasih Kasa.

Secara harfiah, Mabarang adalah prosesi ketika para truna adat dan krama laki-laki saling mendorong, mengangkat dan terlihat "beradu tenaga" menggunakan jempana (usungan suci) sebagai bentuk penyambutan penuh sukacita atas turunnya (tedun) Ida Bhatara. Meski tampak seperti adu kekuatan, inti tradisi ini bukanlah persaingan atau mencari pemenang, melainkan ekspresi kegembiraan kolektif, penghormatan yang sakral, sekaligus pengikat solidaritas masyarakat.

Penelitian etnografi menunjukkan bahwa Mabarang menjadi ruang yang mempertemukan kembali warga desa, termasuk mereka yang merantau, sehingga memperkuat hubungan sosial, identitas komunal dan kesinambungan warisan leluhur di tengah perubahan zaman.

Dalam interpretasi modern, Mabarang dapat dimaknai sebagai filosofi tentang kehidupan yang bergerak melalui keseimbangan antara dorongan dan penerimaan. Seperti jempana yang hanya dapat tetap tegak ketika banyak tangan memikulnya bersama, kehidupan pun tidak dibangun oleh kekuatan individu semata, tetapi oleh keberanian untuk saling menopang di tengah perbedaan arah, pendapat dan tantangan. "Benturan" yang terjadi dalam Mabarang bukanlah simbol permusuhan, melainkan pengingat bahwa pertumbuhan lahir dari dinamika, bukan dari keadaan yang selalu tenang. Dengan demikian, Mabarang tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga menawarkan pesan yang tetap relevan di hari ini, bahwa komunitas yang kuat bukanlah komunitas tanpa perbedaan, melainkan komunitas yang mampu mengubah setiap gesekan menjadi harmoni, setiap beban menjadi tanggung jawab bersama dan setiap pertemuan menjadi penguat jati diri.

- Admin

πŸ“· Arie Permana

12/07/2026

Sebelum berakhir dan menuju Mangun Sumbu Kelod β˜•

Dumogi rahayu semeton sareng sami 🌻

πŸŽ₯ : Sudiastawa Agus Wibawa

11/07/2026

Mangun Sumbu Kaja, Aci Usaba Sumbu 2026

πŸŽ₯ : Sudiastawa


09/07/2026

Ida Betara mantuk saking Segara ✨

πŸŽ₯ Sudiastawa

Istilah Aci dan Usaba (Ngusaba) memiliki makna yang sangat mendalam dalam tradisi Hindu Bali, meskipun setiap desa adat ...
03/07/2026

Istilah Aci dan Usaba (Ngusaba) memiliki makna yang sangat mendalam dalam tradisi Hindu Bali, meskipun setiap desa adat dapat memiliki bentuk pelaksanaan yang berbeda sesuai dengan dresta (tradisi turun-temurun).
Secara sederhana, Aci berarti upacara suci, perayaan sakral, atau persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya. Dalam bahasa Bali Kuno, aci sering dimaknai sebagai hari suci atau upacara besar yang diselenggarakan oleh desa adat.
Usaba (Ngusaba) berasal dari kata yang bermakna mengadakan upacara persembahan atau syukuran, terutama sebagai ungkapan rasa syukur atas kehidupan, hasil bumi, kesuburan, keselamatan, dan keseimbangan alam.
Dengan demikian, Aci Usaba dapat dipahami sebagai hari raya atau upacara besar yang dilaksanakan oleh suatu desa adat sebagai persembahan suci kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, para Dewa, dan para leluhur, sekaligus sebagai ungkapan syukur serta permohonan akan keselamatan, kesejahteraan, kesuburan, dan keharmonisan alam.
Hal yang menarik adalah bahwa Aci Usaba tidak memiliki satu bentuk yang sama di seluruh Bali. Setiap desa memiliki tujuan, rangkaian upacara, waktu pelaksanaan, bahkan sarana upacara yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut merupakan wujud dari dresta atau tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Misalnya:
Ada desa yang menyelenggarakan Ngusaba Desa sebagai puncak upacara desa adat.
Ada Ngusaba Nini, yang berkaitan dengan pemujaan kepada Dewi Sri serta kehidupan pertanian.
Ada p**a Ngusaba Sambah, Ngusaba Kapat, Ngusaba Dodol, Ngusaba Tegen, dan berbagai bentuk lainnya sesuai dengan warisan leluhur (dresta).
Secara filosofis, Aci Usaba merupakan implementasi dari konsep Tri Hita Karana, yaitu menjaga keharmonisan hubungan antara:
1. Parahyangan, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan.
2. Pawongan, yaitu hubungan manusia dengan sesama manusia.
3. Palemahan, yaitu hubungan manusia dengan alam.
Aci Usaba bukan sekadar piodalan, melainkan momentum ketika seluruh masyarakat desa menghidupkan kembali hubungan yang sakral antara manusia, alam, leluhur, dan para Dewa. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya hampir selalu terdapat unsur ngayah, kebersamaan, penyucian, persembahan hasil bumi, serta doa demi keberlangsungan kehidupan desa.

Khusus untuk di Desa Adat Timbrah, ada beberapa Usaba yang masih bertahan dan lestari sampai hari ini, seperti :

1. Aci Usaba Sumbu
Sumbu merupakan simbol poros atau pusat kehidupan. Poros tersebut dimaknai sebagai sumber kehidupan yang mengantarkan manusia menuju sunia, yaitu keadaan suci yang mendekatkan diri kepada Tuhan. Berdasarkan berbagai literatur dan hasil penelitian, Usaba Sumbu dipahami sebagai upacara penyambutan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan menggunakan sarana utama berupa tiang lurus yang dihiasi beragam perlengkapan upacara yang disebut Sumbu.
Bentuk Sumbu tersusun mengerucut. Pada bagian paling atas terdapat Manuk Dewata, yang dipercaya membawa amanat dari persembahan masyarakat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Persembahan tersebut merupakan wujud ketulusan dan bhakti masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sumbu dibangun dengan tinggi sekitar 25 meter. Biaya pembuatan satu Sumbu dapat mencapai sekitar Rp15.000.000 karena terdiri atas berbagai rangkaian hiasan, seperti rerenteng, bunga lengkuas, reringgitan nagasari, wayang, dan berbagai ornamen lainnya yang proses pembuatannya sangat rumit.
Dalam proses nyujukan (mendirikan) Sumbu, terlebih dahulu dilaksanakan ritual nyulubin Sumbu. Pada prosesi ini, Sumbu didirikan di tempat terbuka. Seorang gadis yang mendapat ayahan Sumbu, dengan mengenakan busana adat Rejang sederhana, memasuki bagian pangkal Sumbu. Selanjutnya, Sumbu diputar oleh para truna adat.
Menurut penuturan masyarakat, prosesi tersebut melambangkan peristiwa pemutaran Gunung Mandara Giri, dengan Sumbu sebagai simbol Buana Agung. Pemutaran dilakukan oleh para truna adat karena dipercaya bahwa pada usia remaja masih melekat sifat-sifat keraksasaan. Hal tersebut selaras dengan kisah pemutaran Gunung Mandara Giri yang dilakukan oleh para raksasa.
Dalam kisah pemutaran Gunung Mandara Giri diceritakan bahwa ketika lautan diaduk, muncul racun mematikan bernama Halahala yang dapat memusnahkan seluruh makhluk hidup. Dewa Siwa kemudian meminum racun tersebut sehingga leher-Nya berubah menjadi biru.
Setelah itu bermunculan berbagai dewa, dewi, makhluk suci, dan pusaka, di antaranya Sura, dewi pencipta minuman anggur; Apsara, para bidadari kahyangan; Kaustubha, permata paling berharga; Uccaihsrawa, kuda para Dewa; Kalpawreksa, pohon pengabul harapan; Kamadhenu, sapi pertama dan ibu dari segala sapi; Airawata, wahana Dewa Indra; serta Dewi Laksmi sebagai dewi keberuntungan dan kemakmuran. Selanjutnya muncul Dhanwantari yang membawa kendi berisi Tirta Amerta, yang dipercaya dapat memberikan kehidupan abadi kepada para dewa.
Berdasarkan penuturan beberapa penglingsir desa, gadis yang mendapat ayahan Sumbu melambangkan Dewi Laksmi sebagai pembawa keberuntungan dan kemakmuran, baik bagi keluarga maupun bagi desa adat secara keseluruhan. Dipilihnya seorang gadis sebagai pelaksana ayahan Sumbu mengandung makna bahwa kelak ia akan menjadi seorang ibu yang memiliki peranan penting dalam keberlangsungan kehidupan.
Pada setiap pelaksanaan Usaba Sumbu, desa adat melalui empat Pauman, yaitu Pauman Beji, Pauman Desa, Pauman Manak Yeh, dan Pauman Lambuan, masing-masing menunjuk seorang gadis sebagai wakil. Khusus Pauman Desa diwakili oleh dua orang gadis karena jumlah warganya paling banyak dan menurut cerita para leluhur merupakan warga asli Desa Adat Timbrah. Dari lima gadis tersebut, tiga orang ngayah pada Usaba Sumbu Kaja, sedangkan dua lainnya ngayah pada Usaba Sumbu Kelod.
Rangkaian Usaba Sumbu berlangsung selama satu minggu. Prosesi diawali dengan upacara Melasti ke segara. Tiga hari kemudian dilaksanakan puncak Usaba Sumbu Kaja. Persembahyangan dilaksanakan pada tengah malam, sekitar pukul 24.00 WITA.
Keesokan harinya dilaksanakan prosesi Pengajengan. Pada hari ini dilaksanakan Tabuh Rah yang bertujuan untuk menyomya-kan Bhuta Kala. Setelah Pengajengan dilanjutkan dengan Penyelagan, yaitu hari untuk mempersiapkan seluruh sarana dan perlengkapan yang akan digunakan dalam Usaba Sumbu Kelod.
Pada hari berikutnya dilaksanakan Usaba Sumbu Kelod, yang dipersembahkan kepada Ida Bhatara Sri Rambut Sedana dengan mendirikan dua buah Sumbu serta mempersembahkan babi guling.
Pada malam harinya dilaksanakan upacara Ngundangin. Upacara ini tergolong sangat sakral. Mantra-mantra diucapkan oleh Kelian Daa dalam keadaan kerauhan, kemudian diiringi sorak-sorai para truna adat agar mantra yang diucapkan tidak terdengar oleh pihak lain. Bahkan, masyarakat yang hendak melakukan dokumentasi tidak diperkenankan oleh pecalang setempat.
Setelah seluruh rangkaian selesai, pada hari berikutnya desa adat melaksanakan upacara Penyineban sebagai penutup rangkaian Aci Usaba Sumbu.

2. Aci Usaba Dalem
Aci Usaba Dalem dilaksanakan sehari setelah Tilem Kasanga (bulan mati pada bulan kesembilan dalam sistem penanggalan Bali). Ritual ini ditandai dengan persembahan babi guling di Pura Dalem, Desa Adat Timbrah.
Usaba Dalem yang disertai persembahan babi guling diselenggarakan satu kali setiap tahun di Pura Dalem Desa Adat Timbrah pada momentum Tilem Kasanga. Pelaksanaannya dapat berlangsung tepat pada hari Tilem Kasanga ataupun sehari setelahnya.
Dalam kurun waktu satu tahun, krama Desa Adat Timbrah melaksanakan dua kali persembahan babi guling. Persembahan pertama dilaksanakan pada Aci Usaba Dalem di Pura Dalem, sedangkan persembahan kedua dilaksanakan pada Aci Usaba Sumbu di Pura Panti Kaler yang selalu diselenggarakan pada Tilem Kasa (bulan pertama dalam sistem penanggalan Bali).
Persembahan babi guling yang dihaturkan oleh krama adat, baik pada Aci Usaba Dalem maupun Aci Usaba Sumbu, merupakan salah satu bentuk wewalungan (prani). Babi guling menjadi simbol kemakmuran semesta serta dipersembahkan sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah yang dilimpahkan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Melalui persembahan tersebut, masyarakat memohon agar Sang Pencipta senantiasa menganugerahkan kesuburan, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi umat-Nya.
Sebelum diolah menjadi babi guling, babi terlebih dahulu disucikan melalui prosesi ritual lukat dan supat. Dalam prosesi tersebut, hewan kurban dituek (ditusuk) sebanyak dua kali dengan diiringi mantra-mantra khusus. Setelah prosesi tersebut selesai, babi kemudian diolah menjadi babi guling dan dipersembahkan di Pura Dalem dengan harapan agar roh hewan kurban memperoleh peningkatan kualitas spiritual apabila kelak mengalami proses reinkarnasi.

3. Aci Usaba Muhu-Muhu
Aci Usaba Muhu-Muhu di Desa Adat Timbrah pada hakikatnya merupakan ritual macaru desa. Upacara ini menjadi sarana untuk memperkuat kebersamaan serta mempererat tali persaudaraan seluruh krama desa melalui tradisi makan bersama yang dikenal dengan istilah megibung.
Dalam pelaksanaannya, desa adat menyiapkan lebih dari seratus gibungan yang diperuntukkan bagi seluruh krama desa, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.
Sebelum prosesi megibung dimulai, sejak pagi hari krama dari empat banjar telah disibukkan dengan berbagai persiapan. Kegiatan tersebut diawali dengan mebat, yaitu mengolah berbagai bumbu dan bahan masakan.
Setiap banjar memiliki tugas yang berbeda. Ada yang bertugas mengolah bumbu, ngikih, ngarang, memotong daging sapi, hingga memanggangnya. Sementara itu, kelompok undagi bertanggung jawab menyiapkan berbagai sarana upacara, termasuk perlengkapan caru. Selama satu hari penuh, masyarakat dari empat banjar dan dua Banjar Sesabu bergotong royong menyelesaikan seluruh persiapan sebelum dilaksanakan persembahyangan bersama di Pura Dalem Tengah.
Pada masa lalu, tradisi megibung dilaksanakan secara terpisah di beberapa tempat, seperti Bale Pauman, Bale Sekaa Gong, Bale Lantang, dan Bale Sanggar. Kini, pelaksanaannya dipusatkan di Wantilan Sekaa Truna sehingga seluruh krama dapat berkumpul dalam satu tempat.
Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi salah satu media untuk memupuk kebersamaan masyarakat. Hidangan yang disajikan dalam setiap gibungan berasal dari sebagian daging sapi yang telah digunakan sebagai sarana caru. Oleh karena itu, momen megibung menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan oleh masyarakat.
Tidak hanya krama yang menetap di desa, tradisi ini juga menjadi alasan bagi banyak krama yang merantau untuk p**ang ke kampung halaman agar dapat mengikuti megibung bersama keluarga dan masyarakat desa.
Lebih dari seratus gibungan disiapkan oleh krama yang bertugas sebagai saya, dengan dibantu oleh malun saya serta prajuru desa. Setiap gibungan diisi oleh enam hingga delapan orang. Tradisi megibung baru dimulai setelah seluruh rangkaian persembahyangan bersama di Pura Dalem Tengah selesai dilaksanakan.
Ritual Aci Usaba Muhu-Muhu dilaksanakan dalam bentuk caru desa yang bertujuan untuk nyomia Bhuta Kala sehingga menjadi Bhuta Hita. Makna filosofisnya adalah menciptakan keseimbangan dan keharmonisan antara manusia dengan alam semesta sehingga kehidupan masyarakat senantiasa berada dalam keadaan harmonis.
Rangkaian upacara diawali dengan ritual Nyaga, yang dilaksanakan tiga hari sebelum Aci Usaba Muhu-Muhu. Ritual ini bertujuan untuk nyomia Bhuta Kala dalam lingkup yang lebih kecil agar tidak mengganggu pekarangan maupun lingkungan tempat tinggal masyarakat. Ritual tersebut juga dikenal dengan istilah Metuun Buah.
Pada puncak pelaksanaan Aci Usaba Muhu-Muhu, prosesi nyomia dilakukan dalam lingkup yang lebih besar oleh desa adat dengan menggunakan sarana caru berupa seekor kerbau dan seekor sapi.
Berdasarkan berbagai sumber sastra yang berkembang di Desa Adat Timbrah, Aci Usaba Muhu-Muhu juga dipandang sebagai implementasi ajaran dalam Kitab Shiva Purana, yang mengisahkan Dewi Durga mengalahkan Raksasa Mahisasura yang berwujud sapi atau kerbau. Dalam konteks kehidupan masa kini, kisah tersebut dimaknai sebagai simbol pengendalian diri agar manusia mampu menaklukkan sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam dirinya.

4. Aci Usaba Kapat
Puncak pelaksanaan Aci Usaba Kapat di Desa Adat Timbrah, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, berlangsung setiap Purnama Kapat. Pada hari tersebut, masyarakat memadati Pura Bale Agung untuk melaksanakan persembahyangan bersama. Salah satu kekhasan Aci Usaba Kapat di Desa Adat Timbrah adalah dipentaskannya Tari Rejang, yang menjadi pembeda dibandingkan dengan pelaksanaan Aci Kapat di desa-desa lainnya.
Bertepatan dengan Purnama Kapat, umat Hindu di berbagai wilayah, khususnya di Kabupaten Karangasem, melaksanakan persembahyangan. Namun, rangkaian Aci Usaba Kapat di Desa Adat Timbrah memiliki tradisi yang khas. Sebelum upacara dimulai, terlebih dahulu dilaksanakan prosesi nuur tirta ke Pura Bukit Kangin dan Pura Tirta Empul sebagai bagian dari persiapan upacara.
Pementasan Tari Rejang dimaknai sebagai simbol para bidadari yang turun ke dunia dengan membawa Tirta Amerta, lambang kehidupan dan kesucian. Dari seluruh penari Rejang, empat orang di antaranya mengemban tugas sebagai Klian Daha, yaitu Dedari Agung, Dedari Suci, Dedari Kendran, dan Dedari Tohok.
Setiap remaja putri di Desa Adat Timbrah yang telah memenuhi persyaratan adat diwajibkan menjadi bagian dari kelompok Tari Rejang. Tradisi persembahan Tari Rejang dilaksanakan setiap tahun pada saat Aci Usaba Kapat dan menjadi salah satu rangkaian upacara yang paling dinantikan oleh masyarakat.
Pementasan Tari Rejang diiringi oleh tabuhan Sekaa Gong Desa Adat Timbrah, sehingga menghadirkan suasana sakral sekaligus khidmat dalam pelaksanaan upacara. Selain dipersembahkan pada Aci Usaba Kapat, Tari Rejang juga ditampilkan pada perayaan Hari Raya Kuningan sebagai bentuk penghormatan dan persembahan suci kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Semoga literasi singkat ini bisa bermanfaat bagi generasi mendatang, dan jika semeton memiliki literasi yang lebih lengkap bisa di share di kolom komentar atau langsung chat admin, rahayu πŸ™

πŸ“·

Menengok sejenak masa lalu bagaimana Usaba Sumbu berlangsung, ada yang bisa menebak ini foto tahun berapa ton?πŸ“· : Sandy ...
02/07/2026

Menengok sejenak masa lalu bagaimana Usaba Sumbu berlangsung, ada yang bisa menebak ini foto tahun berapa ton?

πŸ“· : Sandy Macho

Untuk detail rangkaian Aci Usaba Sumbu 2026 :

1. Kamis, 2 Juli 2026 (Wraspati Kliwon Langkir)
Parikrama : Ngoreng perlengkapan Aci Usaba Sumbu.

2. Rabu, 8 Juli 2026 (Buda Umanis Medangsia)
Parikrama : Melasti ke segara.

3. Kamis, 9 Juli 2026 (Wraspati Paing Medangsia)
Parikrama : Melemekan di soang-soang Maksan (Panti).

4. Jumat, 10 Juli 2026 (Sukra Pon Medangsia)
Parikrama : Melemekan di soang-soang Maksan (Panti).

5. Sabtu, 11 Juli 2026 (Saniscara Wage Medangsia)
Parikrama : Bangun Sumbu Kaler.
Ida Batara turun kabeh. Malam hari, Krama Desa Adat Timbrah menghaturkan guling kelanturan antuk sembahyang sinarengan sawatara galah 23.30 WITA.

6. Minggu, 12 Juli 2026 (Redite Kliwon Pujut)
Parikrama : Pengajengan Kaler.
Ida Batara Ngider (Mabhiasa) kapundut menuju ketiga Maksan (Panti).

7. Senin, 13 Juli 2026 (Soma Umanis Pujut)
Parikrama : Panyelagan.
Ida Batara Nginder (Mabhiasa) kapundut menuju ketiga Maksan (Panti).
Malam hari, Ida Batara Magingsir dari Pura Panti Kaler menuju Pura Bale Agung.

8. Selasa, 14 Juli 2026 (Anggara Paing Pujut)
Kegiatan: Bangun Sumbu Kelod.
Ida Batara Nginder (Mabhiasa) kapundut untuk Taruna Adat. Sore hari Krama Desa dan krama dari luar desa melaksanakan sembahyang sinarengan.
Malam hari sekitar 22.00 WITA, Krama Desa menghaturkan banten medaging guling kelanturan untuk sembahyang sinarengan.
Kelanturan juga dihaturkan oleh para daha yang mempersembahkan Tari Wali berupa Rejang Daha hingga selesai.

9. Rabu, 15 Juli 2026 (Buda Pon Pujut)
Kegiatan: Pengajengan Kelod / Penyimpenan.
Ida Batara Nginder (Mabhiasa) kapundut menuju ketiga Maksan (Panti).
Tengah malam, Ida Batara mantuk ke soang-soang Maksan (Panti).

Jika ada yang kurang silahkan komentar ya, admin pasti revisi ✨



01/07/2026

Sekelumit kisah, sepenggal sejarah.
Semoga semakin banyak referensi yang tersampaikan untuk generasi mendatang.

Sebentar lagi kita bertemu kembali di Aci Usaba Sumbu 2026 ✨

Dumogi rahayu semeton Timbrah sareng sami 🌻

πŸŽ₯



Address

Jalan Raya Timbrah, Desa/Kel. Pertima, Kec/Kab. Karangasem
Karangasem Regency
80811

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Desa Wisata Timbrah Pertima posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Desa Wisata Timbrah Pertima:

Shortcuts

Share

Category