29/03/2021
Proses Terjadinya Gua Kapur (kars)
Batuan kapur terbentuk dari kalsium karbonat yang tidak mudah larut oleh air. Tetapi air hujan yang mengandung karbondioksida (hasil penyerapan udara dan tanah) dapat melarutkannya. Batuan kapur mempunyai karateristik yang khas yaitu banyak retakan-retakan horizontal maupun vertikal. Dan ketika air hujan masuk ke celah tersebut terjadi pelarutan sehingga celah/retakan tersebut makin lama makin membesar.
Semua aktifitas diatas terjadi di lapisan bawah tanah dari batuan kapur, disebut zona seturasi, yaitu zona yang berada di bawah muka air bebas (water table), seturasi berarti daerah itu jenuh dengan air. Sedangkan water table adalah batas permukaan dari zona seturasi.
Aktifitas pelarutan semakin lama semakin membesar, sehingga timbul lorong vertikal atau horizontal bahkan ruangan yang semuanya terisi air, dan pada beberapa tempat mereka saling bertemu sehingga membentuk suatu jaringan. Pada suatu waktu, water table turun akibat adanya pergerakan bumi, sehingga lorong-lorong tersebut menjadi gua-gua yang kering (dry caves), dimana air masih ada/mengalir. Pada beberapa tempat menjadi kolam ataupun sungai di bawah tanah.
Setelah tahapan di atas, gerakan bumi yang terjadi serta erosi yang dilakukan air bawah tanah dan proses air hujan melalui retakan di sepanjang dinding gua, merubah bentuk dan struktur gua. Kemudia beberapa bentuk khas dari gua mulai terjadi, antara lain :
1. Stalaktit, yaitu ornamen gua yang membetuk ujung tombak memanjang dan meruncing ke bawah, menempel pada atap gua. Ini terjadi karena air yang mengandung larut yang tinggi menetes melalui titik kecil pada atap gua. Sebelum air menetes jatuh, mengalami penguapan sehingga larutan kapur yang terkandung di dalamnya menempel pada atap gua dan proses ini berjalan terus-menerus hingga akhirnya menjadi bentukan yang menyerupai p**a kecil dengan lubang straw. Pada tahap tertentu terjadi penyumbatan pada lubang-lubang sehingga air tidak lagi mengalir melalui ujung p**a tersebut, tetapi kembali merembes melalui pangkal p**a dan melewati bagian luar p**a menuju ujung p**a kembali dan menetes ke bawah. Akhirnya, bagian luar dari daerah pangkal p**a paling banyak mendapat tumpukkan atu tempelan larutan kapur, sehingga timbul bentukkan yang menyerupai kerucuk terbalik (stalaktit).
2. Stalakmit, terbentuk dari proses terjadinya stalaktit. Ketika air menetes jatuh ke lantai gua, terjadi penguapan air, maka timbul penumpukkan larutan kapur yang membetuk kerucut memanjang dan meruncing ke atas.
Stalaktit dan stalakmit yang ujung-ujungnya menyatu, menyerupai pilar/tiang disebut Column.
1. Drapery/korden, proses terjadinya hampir sama dengan stalaktit, hanya saja perembesannya terjadi pada sebuah celah (crack) yang memanjang pada atap gua, sehingga bentukan yang tumpul menyerupai tirai-tirai seperti korden jendela yang menggantung pada atap menuju ke bawah dengan lekukan-lekukannya.
1. Flowstone, terjadi karena penumpukkan larutan kapur pada celah memanjang yang horizontal pada dinding gua, sehingga membentuk satu gundukan berbentuk separuh bola yang permukaannya/lapisan luarnya seperti air mengalir.
1. Gourdam (dam), bentuknya seperti kolam kecil yang saling menyambung dan menumbuk sehingga membentuk jaringan persis daerah persawahan. Terjadi karena permukaan dari lantai gua tidak rata, sehingga pada suatu tempat kapur yang terlarut air mengalir ke dasar gua terhambat dan membentuk dinding sesuai dengan alur lantai yang menahannya dan terjadi secara berulang-ulang.
1. Helektite, yaitu bentuk stalaktit yang aneh karena bisa bercabang sejajar dengan atau gua, bahkan pertumbuhannya kadang tidak ke bawah tetapi ke atas menuju atap seperti melawan daya tarik bumi (gravitasi). Ada beberapa teori yang muncul tentang terbentuknya helektite, sebagai berikut :
1). Pada tekanan udara tertentu pertumbuhan menjadi horizontal arahnya.
2). Angin membuat pertumbuhan tidak vertikal ke bawah.
3). Ada beberapa molekul tertentu maupun bakteri yang mempengaruhi pertumbuhan.